Sabtu, 27 Februari 2010

Metode Pendidikan Orang Dewasa - resume 4

PENDAHULUAN
Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam pendidikan orang dewasa. Pengetahuan tentang hal ini sangat penting agar dapat menentukan metode apa yang tepat dengan program pendidikan orang dewasa yang dilaksanakan.
Metode pendidikan orang dewasa dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu (1) kontinum proses belajar dan (2) jenis pertemuan yang dilakukan dalam pendidikan orang dewasa.

KONTINUM PROSES BELAJAR SEBAGAI DASAR METODE POD
Dari sudut pandang ini, pendidikan orang dewasa dapat menggunakan metode sebagai berikut:
1. Institusi (pelatihan)
2. Konvensi
3. Konferensi
4. Lokakarya
5. Seminar
6. Kursus kilat
7. Kuliah bersambung
8. Kelas formal
9. Diskusi terbuka

PEMILIHAN JENIS PERTEMUAN
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pertemuan. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dapat membantu dalam menentukan jenis pertemuan yang akan dipergunakan dalam suatu program pendidikan orang dewasa.
1. Usaha atau kegiatan apa yang akan diorganisasikan?
2. Tugas apa saja yang akan diselesaikan?
3. Siapa yang menjadi sasarannya?
4. Bagaimana pesan dapat disampaikan sebaik mungkin?
5. Masalah apa saja yang dapat mungkin timbul dalam pengorganisasian pertemuan yang harus dipecahkan?

Adapun jenis pertemuan, antara lain:
1. Institus (institution)
2. Konvensi
3. Konferensi
4. Lokakarya (workshop)
5. Seminar
6. Kursus kilat
7. Kuliah bersambung
8. Kelas formal
9. Diskusi terbuka

MERENCANAKAN PERTEMUAN
Seseorang harus memikirkan rencana untuk melaksanakan pertemua, tak peduli jenis pertemuan apa yang digunakan. Oleh karena itu, perencana harus mengerahkan perhatiannya pada:
1. Tahap pendahuluan untuk menghubungi orang
2. Cara menerima peserta
3. Apa yang terjadi dalam pertemuan
4. Cara mengevaluasi pertemuan

METODE DALAM PERTEMUAN
Teknik penting yang dapat digunakan dalam pendidikan orang dewasa:
1. Penyajian formal. Semua berlangsung satu arah, dari pembicara kepada peserta.
a. Ceramah atau kuliah
b. Symposium
c. Diskusi panel
d. Kolokium (colloquy)

2. Teknik diskusi
a. Diskusi terbuka
b. Diskusi kelompok dengan wakil pimpinan (co-leader)
c. Sesi Buzz
d. Teknik “Philips 66”
e. Tim Pimpinan
i. Pimpinan Diskusi
ii. Pengamat Proses
iii. Notulen
iv. Narasumber
f. Tim pendengar
g. Bermain peran (role playing)
h. Skit drama
i. Curah pendapat (brainstorming)
j. Diskusi informal
k. Debat
l. Diskusi mangkuk ikan (fishbowl discussion)
m. Forum
i. Forum kuliah
ii. Forum symposium
iii. Forum panel
3. Demonstrasi dan Laboratorium
a. Demonstrasi metode (cara)
b. Demonstrasi hasil
c. Prosedur laboratorium
4. Widyawisata (karyawisata)
5. Komunikasi Tertulis

PENYAJIAN FORMAL
Penyajian formal yang asli adalah penyajian yang bersifat searah dari pembicara kepada peserta tanpa ada umpan balik dari pesera kepada pembicara.

Referensi:
Pendidikan Orang Dewasa dari teori hingga aplikasi
Dr. Ir. H. Suprijanto

Perencanaan Pendidikan Orang Dewasa – Resume 3

PENDAHULUAN
Dalam melaksanakakan sebuah kegiatan pendidikan, dperlukan rancangan pendidikan agar segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik. Di Indonesia sendiri, persepsi tentang pendidikan orang dewasa lebih mengarah pada pendidikan luar sekolah atau masyarakat. Menurut Rahman (1989), istilah seperti pendidikan luar sekolah, pendidikan oang dewasa, pendidikan masyarakat, latihan keterampilan dapat saling ditukarkan (interchangeable). Menurut Soedomo (1989), pendidikan luar sekolah dan masyarakat terbuka lebar bagi orang dewasa yang ingin belajar, karena hanya sebagian kecil orang dewasa saja yang mampu mengikuti pendidikan perguruan tinggi. Untuk itulah diperlukan pendekatan perencanaan pendidikan luar sekolah atau masyarakat, dan initidak akan lengkap tanpa adanya rancangan pembelajaran. Keduanya ini diperlukan agar proses pendidikan dan pengajaran orang dewasa dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa.

KOMPONEN PERENCANAAN PENDIDIKAN
Di dalam melakukan perencanaan pendidikan, ada beberapa komponen yang harus ada didalamnya, yaitu:
1. Peserta didik
2. Tujuan belajar
3. Sumber belajar (pembimbing)
4. Kurikulum
5. Organisasi pelaksana
6. Kondisi masyarakat setempat
7. Kemanfaatan langsung

Adapun yang perlu diperhatikan didalam melakukan perencanaan, antara lain:
1. Penemuan yang telah ada sebelumnya
2. Perlunya penelitian keadaan lokasi
3. Perkiraan kebutuhan
4. Penyusunan skala prioritas
5. Penyusunan tujuan dan strategi
6. Rancangan implementasi
7. Penetapan waktu pelaksanaan, penilaian

PERENCANAAN PARTISIPATIF
Disinipihak yang terkait dalam pendidikan dilibatkan dalam proses pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya.
Prinsip dalam perencanaan partisipatif adalah:
1. Hubungan dengan masyarakat
2. Partisipan tertarik, mau belajar dari orang ahli, memiliki kemampuan intelektual sebagai perencana, paham masalah pendidikan dan dapat bekerja efektif
3. Menggunakan teknik kerja kelompok
4. Membuat ramalan dan program
5. Mengambil keputusan yang diambil bersama

Prosedur perencanaan partisipatif adalah:
1. Menentukan kebutuhan atas dasar antisipasi tehadap perubahan lingkungan
2. Melakukan ramalan, menentukan program tujuan, misi perencanaan dan prioritas
3. Menspesifikasi tujuan
4. Menentukan standar performansi
5. Menentukan alat / metode /; alternative pemecahan
6. Melakukan implementasi dan menilai serta mengadakan review

Dalam pelatihan partisipatif, fasilitator memiliki tugas dengan prosedur:
1. Identifikasi kebutuhan
2. Identifikasi faktor pendukung
3. Merumuskan tujuan pelatihan
4. Memilih dan menetapkan isi dan muatan
5. Membangun hubungan logis dan mengarah pada tujuan
6. Merumuskan materi dan muatan
7. Merencanakan dan memperkirakan kebutuhab waktu
8. Memikikan dan menyusun langkah-langkah yang tepat
9. Memilih dan menggunakan metode
10. Menentukan waktu pelaksanaan
11. Mempersiapkan sarana/media belajar lainnya
12. Menentukan tempat pelatihan, pengaturan ruangan, dan penyediaan logistic penunjang lainnya

PERISTIWA PENGAJARAN
Fungsi pengajaran adalah:
1. Memperoleh perhatian peserta didik
2. Memberitahu tujuan khsus kepada peserta didik
3. Membantu peserta didik mengingat kembali pengetahuan yang telah dimiliki
4. Menyajikan materi pelajaran
5. Memberi bimbingan belajar
6. Memperoleh performansi
7. Memberi umpan balik tentang perbaikan performansi
8. Menilai performansi peserta didik
9. Meningkatkan retensi dan transfer

RANCANGAN PENGAJARAN
Rancangan pengajaran juga perlu dibahas agar proses pengajaran orang dewasa dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan pendekatan sistem menurut Dick & Carey (1985) dan Hannum & Briggs (1984) dalam Munandir (1987), ada 10 prosedur rancangan pengajaran, yaitu:
1. Identifikasi tujuan umum pengajaran
2. Melakukan analisis pengajaran
3. Identifikasi tingkah laku masukan dan cirri peserta didik
4. Merumuskan tujuan performansi
5. Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan
6. Mengembangkan strategi pengajaran
7. Mengembangkan dan memilih materi pengajaran
8. Merancang dan melakukan evaluasi formatif
9. Merevisi bahan pengajaran
10. Merancang dan melakukan evaluasi sumatif

Referensi: Pendidikan Orang Dewasa dari teori hingga aplikasi
Dr .Ir. H. Suprijanto

Tahapan Ujian Nisbet - Tugas Individu 2

Menurut Nisbet, pembaruan pendidikan bisa melewati 4 tahapan ujian. Coba kamu pahami keempat prinsip tersebut dengan menggunakan kata-kata sendiri. Kemudian beri contoh konkret yang menggambarkan proses pendidikan yang terjadi pada dirimu sendiri.


Jawab:

Ada empat tahapan ujian dalam pembaruan pendidikan, yaitu:

1. The increase in workload (pertambahan beban kerja)

Pada tahap ini, kita dituntut untuk mengeluarkan “ekstra work” dalam hal memperbarui pendidikan. Tentu dalam merealisasikannya tidak bisa secara instan dan segera, karena dibutuhkan proses. Untuk itulah, segala bentuk pembaruan dan eksperimen harus sudah dipikirkan terlebih dahulu secara matang, agar dapat menutupi apa yang sudah using ataupun yang tidak perlu lagi dipertahankan, bukan malah berdiam diri dan justru mnecoba memperbaiki ketika sudah dalam keadaan genting.

Contoh:

Pada saat saya kelas 1SMA, hari sekolah adalah dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu, dan setiap hari memilik 7 les mata pelajaran. Ketika saya memasuki kelas 2SMA, terjadi perubahan, dimana kami bersekolah hanya sampai hari Jumat saja, dan satu hari menjadi 8 les mata pelajaran, sehingga hari Sabtu menjadi hari libur. Perubahan ini tentu saja menambah beban saya karena jam belajar sudah menjadi bertambah sehingga terasa lebih berat dan juga lebih capek. Tapi ini pula yang menuntut saya untuk lebih baik dalam mengatur waktu dan pola belajar, agar pertambahan jam sekolah ini tidak mempengaruhi efektifitas belajar saya dan mempengaruhi prestasi saya di sekolah. Begitu pula dengan pihak sekolah, yang harus bijaksana dalam mengatur ulang seluruh jadwal dan juga me”manage” materi yang akan diajarkan sehingga tidak timbul kekacauan dalam sistem sekolah.


2. Loss of confidence (kehilangan kepercayaan diri)

Hilangnya kepercayaan diri seseorang lumrah terjadi, begitu pula dalam hal pembaruan pendidikan. Jika misalnya seorang guru tidak sering meng”update” dirinya dalam hal wawasan dan pengetahuannya, maka ia akan tidak mampu untuk mengajar dengan baik karena kemungkinan akan dinilai kurang berkompetensi oleh murid-muridnya. Jika ini terjadi, ia tentu akan canggung dan lama-kelamaan bisa merasa kehilangan kepercayaan diri. Oleh sebab itu, dalam memperbarui pendidikan, sangat diperlukan perhatian dalam hal belajar dan mengasah ilmu / mempertinggi skill diri agar tidak kehilangan confidence.

Contoh:

Saya merasa cukup fasih dalam berbahasa Inggris, dan dari dulu saya memang aktif les dan berkomunikasi bahasa Inggris. Namun ketika saya berhenti les karena memilih untuk bimbingan belajar, saya merasa kualitas yang saya miliki semakin berkurang dan menurun, terkhusus ketika saya ditantang untuk berdialog dalam bahasa Inggris. Disini saya merasa kehilangan kepercayaan diri saya. Oleh sebab itu, saya harus mulai memikirkan untuk lebih mengasah lagi kemampuan saya berbahasa Inggris.


3. The periode of confusion

Di dalam melakukan pembaruan, tidak dapat dipungkiri bahwa masalah dan kendala bisa bermunculan dan menimbulkan kekacauan. Ini tentu saja dapat menghambat jalannya pembaruan, namun tidak akan menjadi masalah jika bisa langsung diatasi dan dipertanggungjawabkan.

Contoh:

Ketika SMA, sering sekali terjadi perubahan kurikulum, misalnya saja dari sistem KBK menjadi sistem KTSP, ataupun yang lainnya. Pergantian ini membuat kami para pelajar mengalami kebingungan akan bagaimana sebenarnya sistem belajar yang digunakan, begitu pula dengan buku pegangan apa yang harus kami beli, karena beda kurikiulum artinya buku yang digunakan juga harus berbeda. Untungnya dengan bantuan dan panduan guru-guru di sekolah, lama-kelamaan hal ini tidak lagi menjadi masalah yang berarti.


4. The Black Lash

Ketika ada masalah atau kasus yang muncul, sebaiknya penyelesaiannya menggunakan upaya-upaya pembaruan.

Contoh:
Pada saat masuk kuliah, berbeda dengan zaman SMA dulu, buku-buku pegangan mahasiswa harus disediakan sendiri, atrinya bukan kampus yang menyediakan dan mahasiswa tinggal beli (seperti di sekolah dulu), namun mahasiswa harus dengan mandiri mencari sendiri. Namun disini dosen dari mata kuliah yang bersangkutan pada umumnya akan membantu masalah ini, dengan memberikan referensi buku apa yang digunakan, kemudian menyuruh komting untuk mengkopikannya, sehingga mahasiswa tinggal memesan pada komting tanpa harus pusing mencari sendiri.


Referensi:

Salam, Burhanuddin. (2002). Pengantar Paedagogik. Jakarta : Rineka Cipta

"Empat Tahap Ujian dalam Pembaharuan Pendidikan Menurut Nisbet" - Tugas2 - Kelompok 5

1. The Increase workload (penambahan beban kerja)
Dalam setiap pembaharuan sistem pendidikan, pasti ada pertambahan beban kerja, seperti dalam penyelasaian masalah-masalah yang ada pada sistem sebelumnya. Oleh sebab itu sebelum memulai sistem yang baru kita harus memikiran masalah apa yang mungkin akan timbul dan juga memikiran penyelesaian dari masalah tersebut.
contoh : Ada beberapa mata kuliah yang dulunya merupakan mata kuliah wajib sekarang menjadi mata kuliah pilihan dan sebaliknya. Mungkin dalam perubahan ini terdapat beberapa masalah yang mungkin timbul dan penyelesaiannya telah dipikirkan. Dalam hal ini pasti ada pertambahan beban kerja.

2. Lost of Confidence (kehilangan kepercayaan)
Di dalam memperbaiki suatu sistem pendidikan tentu diperlukan skill dan kemampuan dalam melakukannya. Jika hal tersebut tidak dimiliki oleh seorang pengajar tentu ia akan mengalami lost of confidence atau kehilangan kepercayaan diri karena tidak mampu menjalankan sistem.
contoh : ketika seorang dosen mengajar mahasiswa dengan persiapan minim dan kurang menguasai materi mahasiswa cenderung tidak memperhatikan, menganggap remeh dan cenderung menunjukkan kemampuan yang lebih daripada dosennya, sehingga membuat pengajar kehilangan kepercayaan diri, jadi seharusnya pengajar diberi pengembangan dalam mengembangkan kemampuannya.

3. The Period of Confusion (masa kacau)
Kekacauan juga dapat terjadi dalam pembaharuan sistem pendidikan,ada saja kendala ataupun masalah yang dapat menghambat pembaharuan, namun masalah-masalah tersebut masih dapat dipertanggung jawabkan dan dapat diatasi.
contoh : Ketika terjadi pembaharuan metode pengumpulan tugas di kelas Paedagogi yang dulunya tugas dikumpulkan kedalam bentuk makalah (menggunakan kertas) sekarang bersifat paper-less dan menggunakan blog sebagai sarana pengumpulan tugas, dan blog juga menjadi sumber informasi mengenai mata kuliah yang ada. Pada awalnya ada beberapa masalah dan kebingungan-kebingungan yang timbul dari mahasiswa terutama bagi mahasiswa yang belum mengenal blog, sehingga beberapa pertemuan digunakan untuk membahas dan memecahkan permasalahan yang ada.

4. The Blacklash
Dalam mengevaluasi suatu sistem pendidikan terkadang timbul masalah-masalah yang dalam penyelasaiannya menggunakan upaya-upaya pembaharuan.
contoh : Masalah yang timbul dalam metode blogging yang diterapkan dalam kelas paedagogi contohnya, ketika ada beberapa mahasiswa yang belum konfirmasi blog kepada dosen pengampuh meskipun sudah melewati batas waktu yang ditentukan, dapat diatasi dengan cara dosen pengampuh tetap membuat tautan dengan catatan mahasiswa yang belum mengirimkan konfirmasi ke email tetap melakukannya.

Referensi :

Salam, Burhanuddin. Pengantar Paedagogik (Dasar-dasar Ilmu Mendidik). PT. RINEKA CIPTA, JAKARTA:2002

Kelompok V

Denise Lazzaroni 081301036
Husna A. Aritonang 081301046
Gracias Anastasia 081301082

Mayrinda Famella 081301102

Suri Ichwani 081301103

Dita Ardhina 081301110


Kamis, 25 Februari 2010

alat bantu audiovisual-resume3

A. PENDAHULUAN

Alat bantu audiovisual adalah bahan atau alat yang dipergunakan dalam situasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.

Beberapa jenis alat bantu adiovisual yang biasa dipakai:

-papan tulis/buletin

-chart, grafik, diagram, peta

-drama, wayang kulit

-pameran

-papan planel/tempel

-gambar, foto, bahan cetakan

-TV, radio, video tape

-tape recorder

-poster, kartun, klipping

-film, slide, filmstrip

B. POSISI ALAT BANTU AUDIOVISUAL DALAM PENGAJARAN

Posisi alat bantu audiovisual dalam pengajaran adalah sebagai alat bantu untuk menjelaskan materi pelajaran atau konsep yang sulit dimengerti tanpa ilustrasi visual.

1. Kesalahan Persepsi Alat Bantu Audiovisual

Ada beberapa kesalahan persepsi, yaitu:

-alat bantu audiovisual (ABAV) bukan bentuk pendidikan tersendiri

-ABAV bukan hanya gambar saja

-ABAV bukan untuk menarik perhatian, tatpi mengurangi usaha belajar

-ABAV bukan suatu yang baru

-ABVA bukan suatu obat yang mujarab untuk seluruh hambatan pengajaran

2. Manfaat ABAV

-membantu memberi konsep pertama atau kesan yang benar

-mendorong minat

-meningkatkan pengertian yang lebih baik

-melengkapi sumber belajar yang lain

-menambah variasi metode mengajar

-menghemat waktu

-meningkatkan keingintahuan intelektual

-cenderung mengurangi ucapan dan pengulangan kata yang tidak perlu

-membuat ingatan terhadap pelajaran lebih lama

-dapat memberikan konsep baru dari sesuatu di luar pengalaman biasa

C. PRINSIP PENGGUNAAN ABAV

Berikut ini ada penjelasan bagaimana menentukan dan menggunakan ABAV, yaitu:

1. menentukan alat yang digunakan

2. menggunakan ABAV

D. FILM, SLIDE DAN FILMSTIP

Kesamaan antara ketiga alat bantu ini adalah dalam hal menggunakan transparansi (film) yang diproyeksikan pada sebuah layar agar dapat dilihat.

Film adalah rangkaian gambar mati pada rol film.

Slide adalah salah satu alat visual yang paling populer dan serbaguna, yang dapat digunakan dalam penyuluhan

Filmstrip adalah alat visual yang terdiri atas serangkaian foto yang tersusun pada film dengan panjang tertentu dan diproyeksikan dengan proyektur khusus, satu waktu satu gambar.

Sumber-sumber untuk memperoleh alat bantu ini biasanya terdapat dalam arsip perpustakaan, dinas-dinas, serta instansi-instansi yang mempunyai program POD maupun penyuluhan.

E. TAPE RECORDER

Rekaman dengan menggunakan tape memerlukan perencanaan yang cermat dalam produksi dan penggunannya. Rekaman tersebut sebaiknya berhubungan dengan subjek yang sedang dibahas dan terorganisasi dengan baik.

F. TV DAN VIDEO TAPE

Televisi pendidikan dapat menjadi alat yang baik bagi penyuluh. Televisi instruksional berbeda dengan televisi penyiaran, yaitu dalam hal materinya yang tidak didesain untuk didistribusikan oleh stasiun penyiaran massa.

Video tape memungkinkan menayangkan objek berupa gambar, demonstrasi, ilustrasi dan penjelasan dalam pertemuan. Hal ini merupakan pembangkit minat.

G. RADIO

Kelebihan radio:

-memberikan kesegaran dalam informasi

-menjangkau banyak orang

-memungkinkan pendengar untuk membawa ke mana pun mereka pergi

-memberikan kehangatan suara manusia

-merasuk ke tradisi percakapan masyarakat dan dapat mengatasi hambatan kemelekan huruf yang dihadapi oleh media cetak

Kelemahan radio:

-pendengar tidak dapat menunjukkan kembali apa yang telah didengar atau tidak dapat melihat apa yang telah dijelaskan.

H. OVERHEAD PROJECTOR

Manfaatnya:

-proyektor dapat digunakan di depan kelas

-instruktur dapat menghadap kelas

-gambar yang terproyeksi dapat dilihat dalam ruangan yang terang

-transparansi OHP mudah disiapkan

-proyektor ringan

-gambar yang terproyeksi selalu terlihat pebuh

-gagasan dapat disajikan satu per satu

-bagian yang penting dapat ditunjukkan dengan menggarisbawahi, menambah warna atau menggunakan alat penunjuk

-beberapa teknik yang menarik dan efektif dapat digunakan dengan OHP

-transparansi OHP membuat materi dapat dicatat dengan mudah

-waktu kelas dapat dihemat

-transparansi dapat digunakan secara berulang-ulang dan mudah disimpan

-tidak diperlukan operator khusus

I. LCD PROJECTION PANEL

Kelebihan LCD dibanding OHP, antara lain penampilannya berwarna dan dapat diprogram urutan latar belakang, layout, transisi dan animasinya.

J. PAPAN TULIS, CHART, DAN PETA

ABAV ini telah lama digunakan dan masih merupakan ABAV yang utama. Tiga hal tersebut dibahas dalam satu judul karena metode penggunaannya hampir sama.

K. PAPAN PLANEL

Papan planel bervariasi menurut tipe konstruksi dan bahan yang digunakan.

L. PAMERAN

Pameran meruapakan sarana yang baik untuk menarik perhatian orang banyak dan menumbuhkan minat terhadap praktik yang dianjurkan. Pameran akan menjangkau orang yang tidak ikut dalam jenis POD yang lebih formal.

M. BENDA

Yang dimaksud benda dalam hal ini adalah contoh atau barang asli, model atau barang tiruan, dan spesimen atau barang yang diawetkan.

Referensi

Suprijanto,H. (2007). Pendidikan orang dewasa; dari teori hingga aplikasi. Jakarta:

Bumi Aksara.

Jumat, 19 Februari 2010

Lima Tusuk Gigi + Lima Tusuk Sate = Proses Belajar ; Paedagogi - Tugas 1

Kegiatan membentuk bintang dengan bahan dasar tusuk gigi dan tusuk sate, seperti yang telah dijelaskan pada posting sebelumnya, sedikit banyak dapat menggambarkan proses pendidikan/pembelajaran seorang anak, baik secara psikologis, maupun sosiobudaya.

Secara psikologis:
R.J. Havighurst mengatakan, “A development task has been defined as a task which aries at or about certain periods in the life of individual, successful achievement of which leads to happiness and success in task, while failures lead to unhappiness in the individual disapproval by society and difficulty with later task.”
Jelas dikatakan, bahwa keberhasilan dalam tugas, membawa kebahagiaan dan kegagalan membawa kekecewaan, sehingga mengalami kesulitan dalam penyelesaian tugas perkembangan berikutnya.
Dalam hal ini, ketika kelompok disuruh untuk membuat bintang dari tusuk gigi, pada umumnya semuanya gagal, dan merasa sedih/kecewa. Namun ketika disodorkan tusuk sate, dan kelompok berhasil membuat bintang, kelompok merasa sangat senang dan semakin termotivasi untuk dapat melakukan yang lebih baik lagi, bahkan mencoba ulang untuk membuat bintang dari tusuk gigi.
Perkembangan ini tentunya akan mengacu pada perubahan tingkah laku, meliputi kemampuan, dimana menurut Bloom, ada 3 klasifikasi yaitu:
1. Kemampuan kognitif
Jika dikaitkan dengan tugas membentuk bintang, jelas sekali kelompok dituntut untuk memiliki kemampuan kognitif, karena kelompok harus dapat memikirkan ataupn mencari tahu bagaimana cara melakukannya. Instruksi yang sangat minim membuat kelompok harus memutar otak dan memecahkan pertanyaan dan permasalahan yang timbul. Yang termasuk dalam kemampuan kognitif antara lain mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensinmtesis dan mengevaluasi.

2. Kemampuan Afektif
Kemampuan kognitif juga haruis didukung oleh kemampuan afektif, yaitu menerima, menanggapi, menghargai, membentuk,dan berpribadi. Di dalam kelompok, semua angota saling mendengarkan pendapat dan mengharaginya. Semua ikut berpartisipasi dalam melaksankannya, dan bersama-sama menyelesaikan permasalahan, ketika bintang sulit untuk dibentuk. Pada akhirnya, kerja keras kelompok terbayar dengan terbentuknya bintang yang kuat dan kokoh.

3. Kemampuan Psikomotor
Pada saat membuat bintang, dibutuhkan juga kemampuan fisik dan otot, yaitu psikomotorik. Ini diperlukan untuk dapat mengkoordinasikan gerakan-gerakan tubuh kita, khususnya dalam hal melekuk, merangkai dan menyusun tusuk-tusuk sate itu menjadi sebuah bintang yang bagus.

Secara sosiobudaya:
Semua orang juga tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri. Pernyataaan ini tentu saja juga berlaku dalam belajar, khususnya dalam Pendidikan. Dalam belajar dan bersosialisasi, seorang anak harus dapat saling berintegrasi, tolong-menolong, ingin maju, ingin berkumpul, ingin menyesuaikan diri, hidup dalam kebersamaan, dan sebagainya.
Adapun faktor manusia dikatakan makhluk sosial, antara lain:
1. Sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya
Sama seperti ketika masing-masing anggota kelompok membutuhkan anggota yang lain untuk membantu memegangi tusuk sate, mengaitkannya, ataupun sekedar memberi masukan, demikian jugalah manusia secara umum. Tidak ada yang bisa hidup sendiri. Semuanya saling tergantung dan saling membutuhkan. Jika tidak, seseorang tidak akan bertahan hidup.

2. Sifat adaptability and inteligensi
Ketika kelompok gagal membuat bintang, kelompok melihat-lihat hasil kerja kelompok lain dan mencoba meniru dan mengidentifikasi apa yang dilakukan kelompok lain yang telah berhasil. Demikianlah juga semua orang yang lain, ketika ingin menyesuaikan diri, kegiatan meniru, beridentifikasi dan mempelajari, memanfaatkan dan mengubah tingkah laku dilakukan, sehingga terjadi pergaulan pendidikan.

Faktor yang mempengaruhi Sosialisasi
1. Faktor organisme biologis : kelompok
2. Faktor lingkungan alami : kelas, peralatan membuat bintang, fasilitas kampus
3. Faktor lingkungan sosial dan kebudayaan : lingkungan mahasiswa dan hasil ciptaannya

Secara garis besar, demikianlah gambaran pembelajaran, secara psikologis dan sosiobudaya. Pada dasarnya, intinya adalah bahwa pembentukan bintang pada awalnya tidak mudah, dimana terkadang mengalami kendala-kendala dan kegagalan, namun dengan bantuan anggota kelompok lainnya, kegiatan merangkai ini menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Seperti itulah manusia. Pendidikan tidak bisa diadapatkan begitu saja. Dibutuhkan proses belajar di dalamnya. Tidak hanya itu, hubungan sosial dengan sesama juga sangat penting.

Referensi:
Salam, Burhanuddin. Pengantar Paedagogik (Dasar-dasar Ilmu Mendidik)
PT. RINEKA CIPTA, JAKARTA: 2002

Rabu, 17 Februari 2010

BINTANG ALA “TUSUK SATE” DAN “TUSUK GIGI"



Pada hari Kamis, minggu lalu, tepatnya tgl 11 Februari, mahasiswa yang mengambil mata kuliah Paedagogi, yang diampu oleh Bu Dina, diberikan semacam proyek kelompok, yang pada awalnya cukup ambigu dan kurang jelas, karena kami tidak diberi petunjuk apa-apa. Bu Dina menyuruh kami duduk berdasarkan kelompok dan kemudian membagikan 5 tusuk gigi ke masing-masing kelompok. Satu-satunya instruksi yang diberikan Bu Dina adalah: “Coba kalian bentuk bintang menggunakan kelima tusuk gigi itu, dan harus bisa diangkat dengan tangan tanpa ada tusuk gigi yang jatuh”. Tentu saja pada awalnya kami bingung-bingung, dan saling bertatapan. Kami masih belum mengerti maksudnya.

Pada percobaan pertama, kami membentuk bintang dengan menyatukan setiap ujung dari tusuk gigi pad satu titik, sehingga terbentuk bintang yang sederhana. Setelah kami tunjukkan pada Ibu Dina ternyata SALAH. Kami memutar otak dan muncul ide lain utuk membentuknya, yaitu dengan membuat lidinya saling menimpa, namun tidak saling mengait. Setelah terbentuk, kami panggil lagi Bu Dina. Bu Dina mengatakan, “mana bisa diangkat itu!”, dan kamipun berpikir, “jadi gimana bu? Mana bisaaaaa..”. Tapi kami tidak menyerah kami terus mengutak-atik tusuk-stusk gigi tersebut, sampai akhirnya “CRAAACKK…”, tusuk gigi kami ada yang patah!! Kami mencoba meminta tambahan tusuk gigi pada Bu Dina, namun tidak diizinkan. Kecewa sih, tapi kami terus berusaha. Tak lama setelah mencoba-coba, Bu Dina kembali mendatangi tiap kelompok dan membagikan 5 tusuk sate yang diatasnya ada semacam hiasan-hiasan terbuat dari kertas karton berbentuk ayam dan ikan, dan semacam kertas scrap berwarna merah (yang belakangan baru kami ketahui bahwa itu ternyata adalah hiasan lampion! Hehehehe)

Selanjutnya dengan instruksi yang sama, kami disuruh kembali membuat bintang dengan tusuk sate tersebut. Entah mengapa kelompok kami sepertinya semangat sekali mengerjakannya. Yang tadinya cuma dua orang saja yang memegang tusuk gigi, sekarang kami empat-empatnya memegangi tusuk sate itu dan sama-sama membentuknya. Ukuran tusuk sate yang jauh lebih panjang membuat kami lebih mudah memegangnya dan memutar, membalik, atapun menahan tusuk satenya. Ternyata, hiasan-hiasan pada ujung tusuk sate itupun cukup membantu kami, karena dapat sedikit membantu untuk merekatkan ujung-ujungnya. Pada dasarnya, cara kami merangkai bintang tersebut, sama saja dengan cara kami pada tusuk gigi, hanya saja kami gagal melakukannya dengan tusuk gigi, karena ukurannya yang pendek, sehingga tusuk gignya tidak cukup kuat untuk menahan tekanan tusuk gigi yang lain, dan ada yang sampai patah. Berbeda halnya dengan tusuk sate. Ukurannya yang panjang dan mudah untuk dibengkokkan memudahkan kami untuk menyelip-nyelipkan tusuk sate, ada yang menimpa, dan ada yang ditimpa dan menahan, karena kalau tidak disusun dengan saling menimpa dan menahan, bintangnya akan tidak bisa diangkat.

Beberapa kali kami mencoba dan masih gagal, tapi pada akhirnya bintang ala tusuk sate kami terbentuk, dan yang paling penting, bisa diangkat dan tidak jatuh!! Dengan semangat kami memanggil Bu Dina, dan kami ditantang untuk mengangkatnya. Alhasil kami berhasil melakukannya, dan kami cukup bangga karena kami kelompok pertama yang berhasil. Kami merasa sangat senang sekali. Kelompok lain belum ada yang siap menyelesaikan, namun punya kami sudah terbentuk. Mungkin jika dinilai berdasarkan kerapian kerja, ada kelompok lain yang lebih bagus hasil akhirnya, namun kami bangga dengan punya kami, karena kami yang lebih duluan menemukan cara menyatukan tusuk-tusuk sate itu dan membentuknya menjadi bintang. Kami bersinergy dengan cukup baik, dan kami semuanya terlibat dalam mengerjakannya. Ada yang memegang dasarnya, ada yang mengaitkan, pokoknya semuanya bekerja sama. Pada akhirnya entah bagaimana, bintang kami rusak, dan kembali menjadi tusuk sate. Kami mencoba kembali merangkainya, namun ternyata kami kalah oleh waktu. Kelas Paedagogi sudah berakhir, namun Bu Dina memperbolehkan kami membawa tusuk sate itu sebagai kenang-kenangan.


Overall, it was a fun class :)



Selasa, 09 Februari 2010

Pendekatan POD, keyakinan proses belajar dan pebelajar, proses belajar-mengajar orang dewasa - Resume II

BEBERAPA PENDEKATAN DALAM PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Orang-orang yang mengikuti pendidikan non formal cenderung memiliki sifat (a) motivasi rendah menghadiri pengajaran di kelas, (b) rendah diri atau tidak percaya diri, (c) cepat patah semangat, (d) sikap hormat yang berlebihan pada guru, (e) rasa tidak percaya diri akan nilai praktis atau kegunaan pendidikan dalam hidupnya.
Ada 3 jenis pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan pemusatan masalah
2. Pendekatan proyektif
3. Pendekatan appersepsi – interaksi
4. Pendekatan perwujudan diri sendiri (Self Actualization Approach)
a. Proses yang terpusat paada pembelajar
b. Belajar sesame teman dalam kelompok (peer learning)
c. Membantu timbulnya konsep diri yang positif
d. Daya khayal yang berdaya cipta

2. Model Kurikulum dan Penerapan Teori Belajar
a. Model Kurikulum
i. Model infrmasi
ii. Model pemecahan masa
iii. Model proyektiflah
iv. Model ekspresi / perwujudan diri
b. Penerapan teori belajar padasituasi belajar
i. Pendekatan yang terpusat pada masalah
ii. Pendekatan perwujudan diri
c. Beberapa peranggapan


KEYAKINAN-KEYAKINAN TENTANG PROSES BELAJAR DAN PEBELAJAR
1. Keyakinan Proses Belajar Orang Dewasa
a. Tujuan-tujuan Instruksional
- tujuan-tujuan itu dapat berperan sebagai pemandu untuk mengorganisasikan tindakan dan mengarahkan disain pengalaman-pengalaman belajar
- tujuan-tujuan itu dapat berperan sebagai dasar penentu hasil-hasil kegiatan beljar, membandingkan apa yang terjadi dengan yang direncanakan.
b. Proses Belajar
- mereka yang percaya bahwa belajar adalah latihan pikiran dan pengumpulan kebenaran dasar (disiplin mental).
- mereka yang percaya bahwa belajar adalah pengembangan pengertian (Gestal-Field)

2. Keyakinan-keyakinan tentang Pebelajar orang dewasa
Prinsip Pendidikan Orang Dewasa
Unsur hukum belajar,
1. Keinginan belajar
2. Pengertian terhadap tugas
3. Hukum asosiasi
4. Minat, keuletan, dan intensitas
5. Ketetapan hati
6. Pengetahuan tentang keberhasilan dan kegagalan

Penetapan tujuan
1. Tujuan umum
2. Maksud pendidikan
3. Tujuan khusus
4. Memilih materi pelajaran

PROSES BELAJAR MENGAJAR ORANG DEWASA
Tahap Proses Belajar
1. Motivasi
2. Perhatian pada pelajaran
3. Menerima dan mengingat
4. Reproduksi
5. Generalisasi
6. Menerapkan apa yang telah diajarkan serta umpan balik

Ciri-ciri belajar orang dewasa
1. Motivasi belajar berasal dari dirinya sendiri
2. Orang dewasa belajar jika bermanfaat bagi dirinya
3. Belajar adalah hasil kerja sama antara manusia
4. Belajar bagi orang dewasa bersifat unik.
5. Belajar adalah proses evolusi
Suasana belajar yang kondusif
1. Saat suasana saling menghormati dan saling menghargai
2. Suasana saling percaya dan terbuka
3. Suasana penemuan diri
4. Suasana tidak mengancam
5. Suasana mengakui kekhasan pribadi
Fungsi pendidik
1. Penyebar pengetahuan
2. Pelatih ketrampilan
3. Pelancar proses belajar
4. Penjelas tujuan belajar
5. Tutor simulasi
Sikap pendidik
1. Tenggang rasa (empati)
2. Mengakui kehadiran dan menghargai peserta didik
3. Membangkitkan keinginan belajar
4. Mampu mengorganisasikan kelompok belajar
5. Menerima keterbatasan diri
Faktor-faktor yang memengaruhi sikap dan fungsi pendidik
1. Karakteristik program pendidikan
2. Karakteristik peserta didik

Referensi :
Pendidikan Orang Dewasa Dari Teori Hingga Aplikasi (Dr. Ir. H. Suprijanto)
Pendidikan Orang Dewasa (Dr. Yusnadi, M.S)

Pengertian, asumsi dasar, karakteristik, tujuan, dan pemikiran filosofis Pendidikan Orang Dewasa (POD) - Resume I

PENGERTIAN
Andragogi berasal dari bahasa Yunani yaitu andr yang berarti “orang dewasa” dan agogos yang berarti “memimpin atau membimbing”. Andragogi sendiri terlahir setelah paedagogi, yang juga berasal dari bahasa Yunani, paed, yang berarti "anak". Alexander Kapp pada menyatakan bahwa andragogi merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa cacad maupun tidak cacad secara berkelanjutan.

KARAKTERISTIK POD
pada kenyataannya, dewasa berbeda dengan pemuda, dan perbedaan ini ada implikasinya bagi pengajaran.
1. Orang Dewasa Telah Memiliki Lebih Banyak Pengalaman Hidup
2. Orang Dewasa Memiliki Motivasi yang Tinggi Untuk Belajar.
3. Orang Dewasa Telah Memiliki Banyak Peranan Dan Tanggung Jawab
4. Kurang Kepercayaan pada Kemampuan Diri untuk Belajar Kembali
5. Orang Dewasa lebih Beragam dari Para Pemuda
6. Makna Belajar bagi Orang Dewasa

BEBERAPA ASUMSI DASAR DAN IMPLIKASINYA TERHADAP BELAJAR
Menurut Knowles, Merjan, dan Jervis, teori andragogi adalah teknologi keterlibatan ego, yang berarti bahwa keberhasilan dalam pembelajaran orang dewasa terletak pada keterlibatan ego mereka dalam proses pembelajarannya. Asumsi yang dijadikan landasan dimaksud adalah seperti berikut :
1. Konsep Diri
Beberapa implikasi dari asumsi konsep diri terhadap belajar bagi orang dewasa, diantaranya :
a. iklim belajar perlu diciptakan sesuai dengan keadaan orang dewasa, baik ruangan yang digunakan maupun peralatan.
b. Pebelajar diikutsertakan dalam mendiagnosa kebutuhan belajarnya.
c. Pebelajar dilibatkan dalam proses perencanaan belajarnya.
d. Dalam proses belajar mengajar merupakan tanggung jawab bersama antara pembelajar dan pebelajar.
e. Evaluasi belajar dalam proses belajar secara andragogi menekankan kepada evaluasi diri.
2. Pengalaman
a. orang dewasa merupakan pebelajar yang lebih kaya dibandingkan anak-anak.
b. Penekanan pada proses belajar pada aplikasi praktis.
c. Penekanan dalam proses belajar adalah belajar dari pengalaman
3. Kesiapan Untuk belajar
Hasil studi terakhir menunjukkan bahwa orang dewasa mempunyai masa kesiapan untuk belajar. Robert J.Havighurts (1953) membagi masa dewasa itu atas 3 fase yaitu (1). Masa dewasa awal umur antara 18-30 tahun; (2). Masa dewasa pertengahan umur antara 30-55 tahun; dan (3). Masa dewasa akhir berumur antara 55 tahun lebih.
4. Orientasi Terhadap Belajar
Implikasi adanya perbedaan dalam orientasi terhadap belajar antara orang dewasa dan orang dewasa adalah :
a. Para pendidik orang dewasa bukanlah berperan sebagai guru yang mengajarkan mata pelajaran tertentu, tetapi sebagai pemberi bantuan bagi orang yang belajar.
b. Kurikulum dalam pendidikan orang dewasa tidak berorientasikan kepada mata pelajaran tertentu, tetapi berorientasi pada masalah.
c. Oleh karena orang dewasa dalam belajar berorientasi kepada masalah maka pengalaman belajar yang dirancang berdasarkan pula masalah atau pelatihan yang ada pada benak mereka.

BEBERAPA ASUMSI BELAJAR
1. Orang dewasa dapat belajar
-Kemampuan belajar masih tetap ada sepanjang hidup .
2. Belajar adalah proses dari dalam
-Belajar merupakan proses dari dalam yang dikontrol langsung oleh peserta sendiri serta melibatkan dirinya, termasuk fungsi intelek, emosi, dan fisiknya.
3. Kondisi belajar dan prinsip-prinsip belajar
Adapun langkah-langkah yang bisa diterapkan antara lain:
1) Menciptakan iklim belajar yang cocok
2) Menciptakan struktur organisasi untuk perencanaan yang bersifat partisipatif
3) Mendiagnosis kebutuhan belajar
4) Merumuskan tujuan belajar
5) Melaksanakan kegiatan belajar
6) evaluasi

TUJUAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA
Menurut Houle (1972), ada enam orientasi yang dipegang oleh pendidik orang dewasa, yaitu :

1. Memusatkan pada tujuan.
2. Memenuhi kebutuhan dan minat.
3. Menyerupai sekolahan.
4. Menguatkan kepemimpinan.
5. Mengembangkan lembaga pendidikan orang dewasa.
6. Meningkatkan informalisasi.

PERTIMBANGAN FILOSOFIS PENDIDIKAN ORANG DEWASA
Hal ini dangat diperlukan untuk membimbing seseorang untuk mengetahui prinsip-prinsip apa yang harus atau yang akan dilakukan. Berpikir filosofis berdasarkan 2 pendekatan:
1. Pendekatan ilmiah
2. Pendekatan filosofis
Ada lima alasan yang dikemukakan untuk berpikir filosofis :
1. Perlu ada acuan pertanyaan apabila ingin menetapkan program yang akan datang.
2. Pendidik orang dewasa sering kali merasa bagian kecil dari suatu lembaga.
3. Pendidikan membutuhkan landasan untuk menilai keterkaitan antar persoalan/ masalah.
4. Pendidik perlu melihat keterkaitan antara pendidikan orang dewasa dengan aktivitas masyarakat
5. Suatu cara berpikir filosofis yang dikembangkan dengan pertanyaan mendasar


Daftar Pustaka :
1. Yusnadi, (200-). Andragogi, Pendidikan Orang Dewasa. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.
2. Suprijanto,H. (2007). Pendidikan Orang Dewasa; dari Teori hingga Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.