Selasa, 30 Maret 2010

Remdial Andragogi

REMEDIAL ANDRAGOGI

1. Tentukan minimal 1 teori yang dapat menjelaskan bahwa metode
pembelajaran dengan online yang pernah dilaksanakan pada mata kuliah andragogi sesuai dengan teori.
Jawab:
Pada dasarnya ada banyak teori yang bisa dikaitkan pada metode pembelajaran online, namun beberapa teori yang dapat saya ambil antara lain:
- Carl Rogers
Rogers mengatakan bahwa peserta pebelajar dan pembelajar , hendaknya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai diri mereka melalui pengalaman kelompok yang lebih intensif. Hal ini terjadi ketika anggota kelompok mendiskusikan hal-hal yang menjadi tugas pada mata kuliah andragogi. Sebelum mengupload ke blog, kelompok berkumpul dan berdiskusi, menyamakan pendapat dan kemudian menyatukan hasil diskusi, lalu kemudian menguploadnya ke blog.

Rogers sangat banyak menekankan pada belajar berpengalaman. Keberhasilan belajar berpengalaman terletak pada kesadaran dan kemampuan diri sendiri, dan ia mengatakan bahwa manusia memiliki kemampuan memecahkan masalah sendiri.
Ini dapat dikaitkan pada pengalaman saya dimana pada awalnya saya bermasalah dengan pengelolaan blog, karena saya tidak mengerti. Namun seiring saya semakin belajar dan mencoba terus, pada akhirnya masalah ini terpecahkan karena saya belajar melalui pengalaman, yakni penggunaan blog itu sendiri secara langsung.

- Jarvis
Melalui teori Carl Rogers, Jarvis memaparkan beberapa ciri belajar berpengalaman, antara lain:
1. Manusia memiliki potensi alamiah untuk pebelajar.
Walaupun tidak semua tahu cara menggunakan blog, namun semuanya secara alamiah dapat belajar menggunakannya.
2. Kegiatan belajar terjadi ketika pebelajar menyadari relevansi pelajaran tersebut baginya.
Ketika kami mengerti relevansi metode online dan andragogi, dimana blog ini digunakan sebagai sarana untuk pengumpulan tugas dan juga sarana untuk melakukan diskusi via gtalk, maka terjadi proses belajar yang efektif.
3. Kegiatan belajar melibatkan perubahan dalam organisasi dan persepsi diri
Segala persepsi dapat berubah, misalnya persepsi bahwa menggunakan blog itu sulit dapat berubah, ketika pada akhirnya mahasiswa mempelajari cara menggunakannya.
4. Kebanyakan pelajaran penting diperoleh dengan cara melakukan
Jika penggunaan blog hanya sekedar teori, maka hasil yang diinginkan tidak akan tercapai. Namun blog dan berbagai kegiatan online lainnya memang betul betul dilakukan langsung oleh individu.
5. Rasa bebas, sifat kreatif dan percaya diri, memudahkan proses belajar
Pengelolaan blog membutuhkan kreatifitas dan kebebasan untuk mengerjakan sesuai dengan keinginan diri. Percaya diri juga sangat mendukung proses belajar karena mahasiswa yakin akan kemampuannya.
6. Banyak hasil belajar yang bermanfaat dalam masyarakat diperoleh dengan mempelajari proses belajar dan memelihara keterbukaan untuk pengalaman sehingga proses perubahan tersebut mungkin tergabung ke dalam diri sendiri.
Setelah mengalami pengalaman belajar online dan mendapatkan segalan keuntungannya, hal ini dapat dibagikan kepada orang lain, dan menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain.

- Malcom Knowles
Knowles mengatakan bahwa orang dewasa dapat belajar, bahwa belajar adalah suatu proses internal, dan ini sesuai dengan proses belajar menggunakan blog.

2. Tinjau ulang proses diskusi online yang pernah anda lakukan dengan seluruh teman kelas andragogi. Coba jelaskan kelebihan dan kelemahan proses tersebut berdasarkan kajian model, metode dan teknik POD.
Jawab:
Kami pernah melakukan suatu diskusi online dengan menggunakan google talk (gtalk), dimana kami semua mendiskusikan suatu topik yang sama, namun dari tempat yang berbeda. Kami tidak saling tatap muka, namun kami semua dapat saling bertukar pendapat dengan menuliskannya (chatting). Terjadi proses brainstorming di dalamnya, dan proses analisa dan pada akhirnya menyimpulkan hasil diskusi. Berdasarkan kajian model, metode dan teknik POD, ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari proses diskusi ini, antara lain:
KELEBIHAN:
- Mahasiswa menjadi lebih aktif dan kooperatif. Mungkin kalau dikelas, tidak semuanya mau dan berani menyampaikan pendapat, namun metode online ini sedikit banyak mendorong mahasiswa untuk mau menyuarakan pendapatnya.
- Diskusi online efektif, untuk alasan waktu dan jarak. Diskusi ini pada waktu itu kami lakukan pada malam hari, dan diskusi online sangat menguntungkan karena kami tidak harus berkumpul secara tatap muka, dan kami tidak harus mengkhawatirkan jam yang sudah malam.
- Waktu yang digunakan singkat dan padat sehingga tidak bertele-tele.
KELEMAHAN:
- Jaringan dan koneksi yang buruk sering menjadi hambatan lancarnya proses diskusi
- Tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas untuk dapat online
- Ramainya orang yang mengikuti diskusi online ini, membuat diskusi susah diikuti karena semuanya ngomong secara bersamaan, sehingga dibutuhkan seseorang sebagai semacam “moderator” untuk memimpin jalannya diskusi.
- Diskusi online tidak tatap muka, sehingga bahasa nonverbal seseorang tidak dapat kita lihat, padahal bahasa non verbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh) juga sama pentingnya dengan bahasa verbal di dalam komunikasi.


3. Tuliskan garis besar modul POD untuk performa, yang anda selesaikan bersama kelompok.
Jawab:
Modul yang dikerjakan oleh kelompok 3 untuk Pendidikan Orang Dewasa berjudul “mister(I)nsomnia”, dimana penyajiannya menggunakan metode diskusi.
Tim Penjyaji terdiri atas tiga orang yaitu saya sendiri, Gracias Anastasia, Vivi Fransiska dan Rahayu Mardani.
Modul ini menjelaskan tahapan mendetil dari proses diskusi yang akan dilakukan kelompok bersama 11 mahasiswa lain yang mengambil mata kuliah Andragogi. Diskusi akan berjalan selama 90 menit, dan akan menggunakan alat bantu media berupa laptop, in focus, dan handout. Topik yang dibahas adalah seputar insomnia, dan berbagai bentuk aplikasinya di kehidupan sehari-hari. Sumber pembahasan, kami dapatkan dari internet dan juga pengalaman pribadi, serta dari beberapa media cetak.
Secara garis besar, modul terbagi dalam tiga tahap, yaitu:
PEMBUKAAN
Pada sesi ini tim penyaji melakukan perkenalan, memaparkan tujuan instruksional diskusi ini, dan kemudian membagi kelompok.
DISKUSI
Pada sesi ini tim penyaji melakukan kegiatan brainstorming yang kemudian diikuti dengan penampilan cuplikan gambar, video dan pemaparan contoh kasus terkait insomnia. Setelah itu kelompok yang sudah dibagi dapat mendiskusikan hal tersebut dan kemudian menyampaikannya di forum besar. Di akhir diskusi tim penyaji akan merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi.
PENUTUP
Padas sesi akhir, tim penyaji akan memberikan kuis berhadiah dan kemudian melakukan evaluasi berupa kuesioner. Di paling akhir, reward akan dibagikan dan diskusi ditutup dengan salam.


4. Berkaitan dengan segala effort yang anda gunakan untuk membuat dan mengelola blog anda, pengalaman belajar apakah yang dapat anda jelaskan?
Jawab:
Pada awalnya, ketika dosen menyuruh memberitahu kami semua bahwa kuliah andragogi akan banyak menggunakan blog, saya sempat kaget dan merasa bahwa saya akan mengalami kesulitan, karena saya sama sekali tidak tahu menahu mengenai blog. Jangankan mengelolanya, membuatnya saja saya tidak tahu, Namun disinilah terjadi proses pembelajaran. Seperti yang kita semua sudah ketahui, pembelajaran dalam bentuk apapun tidak lagi hanya dari media cetak berupa buku atau Koran, majalah dan sejenisnya. Kini internet dapat diakses dengan sangat mudah dan sangat murah sehingga sekarang belajar via online sudah sangat umum dan patut dikembangkan. Pengelolaan blog dapat menjadi salah satu alternative pilihan. Dengan bantuan teman-teman yang lain, pada akhirnya saya berhasil membuat blog. Terciptanya blog bukan berarti tugas saya sudah selesai. Saya masih harus belajar untuk mengoperasikannya. Saya harus belajar cara posting, cara mengcomment, cara upload dan download, cara membuat link, dan sebagainya. Tapi ternyata semua usaha saya tidak sia-sia. Kini saya sudah mampu menggunakan blog dengan cukup baik. Saya betul-betul belajar dari nol, dan kini saya sudah bisa. Melalui pengelolaan blog, secara tidak langsung saya mendapatkan pendidikan orang dewasa, dimana kerjasama dengan orang lain juga sangat dibutuhkan. Saya belajar untuk berusaha, dan saya juga mengalami berbagai trial dan error, karena butuh beberapa kegagalan untuk dapat mencapai keberhasilan. Pengelolaan blog juga mengajarkan saya untuk kreatif dan berinovasi. Pada akhirnya blog banyak memberikan saya keuntungan. Selain fun, membuat dan mengelola blog telah menambah wawasan saya dalam bidang teknologi, yang secara tidak langsung juga mendukung pendidkan saya, khusunya pada mata kuliah andragogi. Jika saya baik dalam menggunakannya, otomatis saya akan terbantu dalam kuliah ini, namun jika saya tidak memahami cara menggunakan blog maka sudah pasti akan mempengaruhi performa saya dalam kuliah ini. Kesimpulannya, pengelolaan blog telah memberikan saya pengalaman belajar yang menyenangkan dan sangat berguna bagi saya.

Selasa, 09 Maret 2010

Evaluasi POD (Resume 6)

Pendahuluan

Hal yang baru tentang evaluasi adalah upaya untuk melakukannya secara sistematis dan ilmiah. Tanpa disadari, evaluasi sering kita lakukan, contohnya ketika mengevaluasi pendidikan anak-anaknya, mengevaluasi keandalan mobil mereka, dsb. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah evaluasi dilakukan dengan baik atau tidak.

Pengertian dan Jenis Evaluasi

Beberapa jenis evaluasì yang berbeda dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat formalitas dan ketepatannya. Pembagian ini meliputi 3 tingkat:

1. evaluasi informal

2. evaluasi semi formal

3. evaluasi formal atau penelitian ilmiah

Manfaat Evaluasi

Menurut Flores, Bueno, dan Lapostora,

1. menentukan patokan awal yang dapat dipakai sebagai dasar perbandingan tindakan baru

2. menentukan pengarahan kembali

3. menumbuhkan rasa aman kepada teknisi

4. meningkatkan kepercayaan diri di antara penerima evaluasi

Manfaat evaluasi secara umum:

1. menetukan patokan awal

2. mengetahui keberhasilan suatu kegiatan

3. mencek secara periodik efektifitas suatu program

4. memberikan rasa aman kepada pelaksana tugas

5. memberi bukti konkret kepada pihak yang terkait

6. meningkatkan sikap profesionalkepada penerima evaluasi

Tujuan Evaluasi

1. untuk menentukan seberapa dekat peserta didik secara individual dan keseluruhan kelas telah mencapai tujuan umum yang telah ditentukan

2. untuk mengukur tingkat perkembangan yang telah dicapai oleh peserta didik dalam waktu tertentu

3. untuk menentukan efektifitas bahan, metode, dan kegiatan pengajaran

4. untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi peserta didik, instruktur dan masyarakat

Prinsip Evaluasi

1. mempunyai tujuan yang pasti

2. menggunakan tujuan perilaku yang terjangkau dan pasti

3. bukti tentang perubahan dalam diri individu

4. menggunakan instrumen yang tepat dalam evaluasi

5. kerja sama antara peneliti dengan orang yang dinilai kemajuannya

6. tidak perlu mengevaluasi semua hasil pembelajaran

7. evaluasi harus berkesinambungan

Prosedur Evaluasi

1. penentuan tujuan atau kebutuhan evaluasi

2. penentuan kriteria atau standar evaluasi

3. penyusunan instrumen atau kuesiones evaluasì

4. melakukan pengumpulan data atau informasì

5. melakukan analisis data atau informasi

6. memberi kesimpulan

Prosedur evaluasi menurut Morgan:

Langkah 1: mengecek tujuan

Langkah 2: memeriksa apa yang dìlakukan untuk mencapaì tujuan

Langkah 3: mengumpulkan bukti

Langkah 4: menentukan sumber bukti

Langkah 5: menentukan alat untuk memperoleh bukti

Langkah 6: menganalisìs bukti

Langkah 7: menggunakan hasil

Ilustrasi Evaluasi

Ada dua contoh evaluasi yang dapat dilihat di buku Suprijanto, seperti (1) Lembar Saran Akhir Pertemuan yang dibagikan pada akhir pertemuan untuk mengevaluasi jalannya pertemuan dan (2) Kartu Penlaian yang digunakan oleh pimpinan dan peserta diskusi untuk mengevaluasi efektivitas diskusi.

Sumber:

Pendidikan Orang Dewasa dari teori hingga aplikasi

Dr. Ir. H. Suprijanto

Sabtu, 06 Maret 2010

Komunikasi POD pada Metode Diskusi - tugas kelompok andragogi

KOMUNIKASI POD PADA METODE DISKUSI

1. Batasan pembahasan materi kelompok kami yakni komunikasi pada “Teknik Kelompok Nominal” dalam metode diskusi.

2. Kesimpulan hasil diskusi kelompok.

Link http://nazarmargolang.com/index.php?option=com_content&task=view&id=85&Itemid=87 yang berjudul komunikasi dalam penyuluhan pertanian, ada di jelaskan ,mengenai bagaimana sebenarnya komunikasi yang baik di dalam sebuah penyuluhan. Penyuluhan itu sendiri dapat menggunakan beberapa macam metode, seperti pelatihan dan tak ketinggalan diskusi kelompok. Namun yang mejadi perhatian adalah prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa, yang harus diterapkan di dalam melakukan komunikasi penyuluhan ini.
Pada artikel tersebut dikatakan bahwa secara umum diketahui bahwa komponen komunikasi adalah KOMUNIKATOR (pengirim/sender), PESAN (message), MEDIA (saluran/channel), KOMUNIKAN (penerima/receiver) untuk berlangsungnya kegiatan tersebut dibutuhkan INTERAKSI (interaction) dan PEMAHAMAN (understanding). Proses penyamopaiannya dapat dibantu dengan media audiovisual, tap yang terpenting adalah bahwa kedua pihak saing memahami is dari diskusi tersebut.

Jika dibandingkan dengan buku Penddikan Orang Dewasa oleh Suprijanto, hal tersebut sudah relevan dengan yang dibahas di buku. Penggunaan media juga ada singgung, begitu pula dengan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa.
Pada sesi komunikasi dalam penyuluhan pertanian ini, metode yang digunakan adalah Tanya jawab dan diskusi. Ssalah satunya disinggung bahwa dalam kegiatan transfer ilmu dan teknologi untuk merubah PSK (pengetahuan, sikap dan keterampilan) dilakukan dengan 3 kegiatan yaitu Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan. Yang membedakan dari ketiga kegiatan tersebut adalah penekanan dalam memberikan motivasi untuk perubahan perilaku. Kalau pendidikan penekanan agar peserta didik TAHU, kalau Pelatihan penekanan agar peserta didik MAU dan kalau Penyuluhan penekanan agar peserta didik KONSISTEN dalam berbuat.
Metoda yang digunakan dalam penyampaian materi adalah Ceramah dan Tanya Jawab, alat bantu Komputer, LCD dan Pengeras Suara, dengan menggunakan Power Point dan pemutaran film-film singkat yang berkaitan dengan komunikasi.

Secara keseluruhan, baik itu dikatakan ceramah, tanya jawab, ataupun diskusi, pada dasarnya semua ini adalah bentuk dari diskusi, karena ceramah pun pada akhirnya bisa menjadi diskusi, jika naninya berujung tanya jawab dan akhirnya berdiskusi.
Inti dari artikel ini pada dasarnya adalah mengenai bagaimana komunikasi yang baik dalam memberikan penyuluhan, Namun jika dikaitkan dengan bahan pembelajaran kelompok kami, yaitu komunikasi dala, metode diskusi pendidikan orang dewasa, artikel ini secara tidak langsung juga membahas hal tersebut, karena salah satu metode yang digunakan dalam memberikan penyuluhan adalah dengan diskusi, baik itu diskusi kelompok, atau hanya memimpin diskusi kelompok, dan lain sebagainya.

Pada link http://tpers.net/?p=1201, yang berjudul Prinsip Belajar Orang Dewasa, ditekankan mengenai prinsip-prinsip belajar orang dewasa, dimana belajar merupakan proses sepanjang hayat dan tiada habisnya.
Prinsip belajar orang dewasa terdiri atas hokum belajar, penetapan tujuan, mengembangkan kemampuan serta membentuk kebiasaan. Dari sini dapat dimunculkan 3 pertanyaan:

1. Bagaimana orang dewasa belajar?
2. Apakah akan menemukan kesulitan seperti yang dialami anak-anak ketika belajar?
3. Bagaimana tahapan belajar orang dewasa?
4. Apa saja metode belajar dalam pendidikan orang dewasa?

Orang dewasa belajar dengan prinsip belajar orang dewasa, yaitu focus terhadap masalah yang nyata, menekankan pada bagaimana pembelajaran dapat diaplikasikan, mengubungkan pembelajaran dengan pebelajar pada tahap tujuannya, menghubuungkan pebelajar antara materi dengan masa lalunya, memperkenankan adanya metode debat dan tantangan pada ide, menghargai dan merespon pendapat pebelajar lainnya, mendorong pebelajar sebagai sumber belajar untuk orang lain juga dan benar-benar mengannggap peserta didik sebagai orang dewasa serta memberikan pebelajar “pengawasan”.
Adapun tahapan belajar orang dewasa adalah dimulai dengan unconscious incompetence, conscious incompetence, conscious competence, unconscious competence, Misalnya dalam sebuah kasus ketika seseorang dapat mengoperasikan sebuah komputer yang awalnya tidak bisa menjadi mahir. Dimulai dengan ketidakmampuan bawah sadarnya bahwa awalnya individu tersebut tidak mahir dan belum membutuhkan penggunaan komputer, sehingga individu tersebut tidak perlu mengoperasikan komputer. Tahap berikutnya berubah menjadi ketidakmampuan sadar. Dimana individu mulai belajar mengoperasikan komputer karena perlu menggunakan komputer. Kemudian setelah belajar agar dapat mengoperasikan komputer, individu masuk ke dalam tahap kemampuan sadar. Tahap yang terakhir adalah kemampuan bawah sadar, dimana individu telah mahir mengoperasikan komputer sehingga secara refleks dapat menggunakan tools yang ada dalam pengoperasiannya bahkan mungkin dapat memperbaikinya jika terjadi kerusakan pada komputernya.
Segala sesuatu mengenai pendidikan orang dewasa ini, mulai dari prsinsipnya, tujuannya. tahapannya, dll, harum menggunakan metode yang tepat dalam acara yang tepat. Adapun metode-metode dalam Pendidikan orang dewasa antara lain adalah pelatihan, diskusi, studi kasus, demonstrasi,

Arikel ini lebih banyak mengulas mengenai pelatihan dan tidak begitu banyak menyinggung metode diskusi. Dikatakan disini bahwa diskusi kelompok dengan disediakannnya fasilitator bisa membuat pebelajar dapat menemukan sumber lain dan berbagi informasi dan proses belajar dapat diamati. Tetapi kelemahannya hanya sedikit pebelajar yang berpartisipasi dalam diskusi dan lebih sulit dalam mengontrol waktu.
Secara umum isi dari artikel ini membahas tentang pendidikan orang dewasa, generally. Namun ini semua dapat dikaitkan juga dengan metode diskusi, karena bagaimanapun juga untuk dapat melaksanakan meode diskusi dengan baik, diperlukan juga pemahaman yang baik pula tentang prinsip belajar orang dewasa. Jika dibandingkan dengan pembahasan buku, isi dari artikel ini sudah sangat relevan dan benar adanya.


Berdasarkan artikel di http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-diskusi-dalam-pembelajaran/ dapat kita lihat bahwa penjelasan mengenai metode diskusi dalam pembelajaran tersebut sudah relevan dengan penjelasan metode diskusi pendidikan orang dewasa yang tertera di buku PENDIDIKAN ORANG DEWASA Dari Teori Hingga Aplikasi oleh Dr. Ir. H. Suprijanto.
Pada site yang disebutkan tadi, telah dijelaskan bahwa metode disukusi merupakan saran penyampaian materi pelajaran, dan memberi kesempatan kepada anggota diskusi untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah. Dalam hal ini, yang dibicarakan adalah diskusi antara guru dengan murid-murdnya, namun ini juga sudah sesuai dengan apa yang dikatakan di buku, yaitu bahwa penggunaan metode disukusi ini efektif bagi pendidikan orang dewasa.
Artikel diatas juga menampilkan dan menjelaskan jenis-jenis dari diskusi yang relevan dengan yang terdapat di buku dimana jenis-jenis dari metode diskusi tersebut memiliki komunikasi didalamnya. Contoh:

* Buzz Group, suatu kelas yang besar dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil 4 atau 5 orang. Diskusi ini dapat diadakan di tengah-tengah atau akhir. Pada jenis diskusi ini komunikasi terjadi dimana anggota-anggota kelompok menyatakan ide-idenya yang dicatat oleh sekertaris lalu menyelesaikan kesimpulan yang akan disampaikan kembali ke kelompok besar atau kelas setelah selesai. Sesi buzz biasanya memerlukan waktu 10-20 menit.


* Brainstorming, merupakan suatu diskusi di mana anggota kelompok bebas menyumbangkan ide-ide baru terhadap suatu masalah tertentu di bawah seorang ketua. Semua ide yang sudah masuk dicatat. Untuk kemudian diklasifikasikan menurut suatu urutan tertentu. Suatu saat mungkin ada diantara ide baru tersebut yang dirasa menarik untuk dikembangkan. Dalam hal ini komunikasi antar anggota kelompok dikusi bebas terjadi.

Selain itu juga disebutkan pada http://pustakailmiah.unila.ac.id/2009/07/16/analisis-peranan-mahasiswa-pada-kelompok-diskusi-dan-hubungannya-dengan-prestasi-belajar-pada-mata-kuliah-aljabar-linier/ bahwa Diskusi adalah salah satu jenis metode pembelajaran yang dapat menjadikan komunikasi banyak arah. Diskusi adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan berlangsungnya dialog antar mahasiswa.” (Kardi dan Nur; 2000;17).

Paparan diatas memiliki relevansi dengan salah satu dari berbagai manfaat metode diskusi kelompok dalam pendidikan orang dewasa pada buku PENDIDIKAN ORANG DEWASA Dari Teori Hingga Aplikasi oleh Dr. Ir. H. Suprijanto yakni metode diskusi member kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya dan mendorong setiap individu untuk berpikir dan mengambil keputusan.
Mengenai kepemimpinan diskusi memimpin diskusi yang baik atau efektif terdapat pada http://putraindo.blogspot.com/2008/12/teknik-memimpin-diskusi-kelompok.html yang menjelaskan bahwa pemimpin diskusi kelompok yang baik diantaranya mengatur alur pembicaraan atau komunikasi dalam kelompok, mengerti dan setidaknya mencoba memahami pendapat yang dikemukakan dan kemudian yang terakhir yaitu membangkitkan keberanian pembicara atau anggota kelompok.
Diskusi kelompok tidak hanya berlangsung secara formal dan dilaksanakan dalam bentuk debat seperti yang dipaparkan pada http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/21/diskusi-dan-macamnya/ yaitu salah satu macam diskusi ialah debat informal yang memilki pengertian merupakan diskusi dengan cara membagi kelas menjadi 2 kelompok yang pro dan kontra yang dalam diskusi ini diikuti dengan tangkisan dengan tata tertib yang longgar agar diperoleh kajian yang dimensi dan kedalamannya tinggi. Selanjutnya bila penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara sistematis disebut diskusi informal.

Adapun langkah dalam diskusi informal adalah :
(1). menyampaikan problema;
(2). pengumpulan data;
(3). alternatif penyelesaian;
(4). memlilih cara penyelesaian yang terbaik.

Kelompok kami mengkaji bahwa komunikasi yang terjadi pada jenis diskusi tersebut berlangsung bebas dan tidak jarang menyiratkan kesan konfrontasi. Hal ini disebabkan terbaginya mereka dalam dua kubu yakni pro dan kontra serta selain itu keadaan informal atau peraturan yang longgar juga mempengaruhi komunikasi yang terjadi semakin bebas bahkan terkadang alot dan menyebabkan perselisishan.

Didapati juga salah satu contoh diskusi kelompok yakni FishBowl Discussion. Diskusi ini terdiri dari beberapa orang peserta yang dipimpin oleh seorang ketua. Tempat duduk diatur setengah lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosong menghadap peserta, seolah-olah menjaring ikan dalam sebuah mangkuk (fish bowl). Kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pikiran dapat duduk di kursi kosong tersebut. Ketua mempersilahkan berbicara dan setelah selesai kembali ketempat semula. Dalam diskusi jenis ini komunikasinya terjadinya lebih informal dan cenderung lebih membatasi aspirasi atau pendapat anggota kelompok karena prosedurnya yang mengharuskan anggota kelompok maju dan duduk di kursi kosong yang telah disediakan dimana tidak seperti jenis diskusi lainnya seperti brainstorming yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kemudian yang terakhir yaitu teknik kelompok nominal adalah suatu teknik peran serta dalam pengambilan keputusan yang lebih jarang digunakan daripada brainstorming. Ini berarti juga teknik untuk mengumpulkan pandangan dan penilaian personal dalam suasana ketidakpastian, ketidaksepakatan pada inti persoalan dan lalu mencari jalan keluar terbaik. Dalam teknik kelompok nominal pandangan pribadi masing-masing orang memegang peranan penting. Jenis diskusi ini tepat dipakai untuk kelompok kecil yang beranggotakan tidak lebih dari sama dengan 14 orang. Hal demikian karena dengan jumlah anggota yang sedikit perselisihan relatif dapat diselesaikan lebih cepat.
Terdapat tiga elemen penting yang sebaiknya diperhatikan jika hendak memakai teknik kemompok nominal, yakni:

* Elemen pertama, hanya ada sebuah saja pertanyaan yang sudah dipikirkan matang dan dirumuskan.

* Elemen kedua ialah ada sekelompok orang dengan tugas khusus dan ahli dalam masalah yang akan didiskusikan.

* Elemen ketiga tidak lain pemimpin kelompok yang dapat memimpin. Tugas pemimpin kelompok hanyalah menjadi fasilitator dan tidak mempengaruhi berlangsungnya persidangan seperti mengusulkan suatu rekomendasi.

Jenis diskusi ini mirip dengan braionstorming yang bersifat mengumpulkan pendapat dari anggota kelompok dengan bebas dan komunikasi yang terjalin juga bebas hanya saja lebih jarang digunakan.



3. Daftar Pustaka
Suprijanto,H. (2007). Pendidikan orang dewasa; dari teori hingga aplikasi. Jakarta:
Bumi Aksara.
http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-diskusi-dalam-pembelajaran/
http://nakih.blogdetik.com/index.php/2009/01/28/diskusi-macam-macam-diskusi/
http://www.docstoc.com/docs/17598868/Mengajar-dengan-Metode-Diskusi
http://pustakailmiah.unila.ac.id/2009/07/16/analisis-peranan-mahasiswa-pada-kelompok-diskusi-dan-hubungannya-dengan-prestasi-belajar-pada-mata-kuliah-aljabar-linier/
http://www.freewebs.com/desya/apps/blog/entries/show/587807
http://putraindo.blogspot.com/2008/12/teknik-memimpin-diskusi-kelompok.html
http://abankcorps.wordpress.com/2008/07/11/teknik-memimpin-diskusi/
http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/21/diskusi-dan-macamnya/
http://id.shvoong.com/business-management/management/1754391-nominal-group-technique/
http://nazarmargolang.com/index.php?option=com_content&task=view&id=85&Itemid=87
http://tpers.net/?p=1201



4. Testimoni Setiap Anggota Kelompok

Vivi Fransiska (0813010173)
Menurut saya, metode belajar diskusi dalam pendidikan orang dewasa cukup efektif, karena selain semua partisipan atau peserta didik dapat berperan dengan komunikasi aktif, peserta didik juga diberi kebebasan mengeluarkan pendapat seputar topik yang dibahas dalam diskusi. melalui diskusi, setiap individu juga didorong untuk berpikir dan mengambil keputusan. diskusi cenderung membuat peserta berwawasan luas. dengan terbiasanya peserta melakukan diskusi, mereka akan lebih terbiasa juga dalam mengidentifikasi, menemukan dan memecahkan masalah.

Gracias Anastasia (081301082)
Menurut saya, metode pembelajaran dalam bentuk diskusi adalah salah satu cara belajar yang paling baik dan efektif juga. Di dalam diskusi, baik pemimpin diskusi ataupun partisipan, memiliki kesempatan untuk tampil aktif dan mengemukakan pendapat secara bebas. Metode diskusi juga sangat fleksible karena memberi peluang yang besar untuk divariasikan dengan berbagai macam kegiatan ataupun alat bantu media, misalnya mendiskusikan film, mendiskusikan music, menggunakan LCD, membahas tentang buku, dan lain sebagainya. Diskusi yang baik dan berbobot pastimnya juga akan menghasilkan hasil diskusi yang baik pula, dimana diskusi yang baik harus dibarengi dengan kemampuan komunikasi dari masing-masing anggota. Jika komunikasi dalam diskusi berjalan dengan baik maka hasil diskusi juga pasti berkualitas.

Rahayu Mardani (081301114)
Menurut saya bahwa metode diskusi adalah salah satu jenis metode pembelajaran yang dapat menjadikan komunikasi banyak arah. Kaitannya adalah bahwa diskusi memungkinkan para anggota kelompok mengeluarkan pendapat dan pandangannya, saling bertukar informasi baik dalam memecahkan suatu masalah ataupun membahas suatu tema yang dianggap penting. Seperti contohnya dalam salah satu jenis diskusi brainstorming.
Dengan berbagai jenis diskusi yang berbeda maka komunikasi yang terjalin juga berbeda., baik itu informal ataupun formal. Komunikasi yang hidup ataupun baik tidak jarang tergantung pada pimpinan diskusi yang dapat membangun komuikasi yang baik.


Kamis, 04 Maret 2010

Tugas III kelompok V "PARADIGMA PEMBELAJARAN"

Alamat Url :
1. Pembelajaran Konstriktivistik : http://repository.gunadarma.ac.id:8000/browse.php?nfile=1565

2. Quantum Teaching dalam Pembelajaran : http://pasca.uns.ac.id/?p=306

3. Kecerdasan Emosional dalam Pembelajaran : http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/983

4. Multiple Intelligences : http://indonesia-educenter.net/index.php?option=com_content&task=view&id=299&Itemid=61

5. Quantum Learning dalam Pembelajaran : http://bankskripsi.com/model-pembelajaran-berbasis-portofolio-studi-kasus-di-sd-negeri-barusari-03-semarang.pdf.doc.htm

6. Contectual Teaching and Learning : http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/seni-desain/article/view/1548


PEMBAHASAN STUDI KASUS
1. Contextual Teaching and Learning (CTL)
Studi kasus tentang penerapan model pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) pada mata pelajaran seni budaya sub bidang studi seni tari untuk siswa kelas VIII di smp negeri 20 malang tahun pelajaran 2008/2009
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak, untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek, yang mudah dilupakan, tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang. Pendekatan kontekstual ( contextual teaching and learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong anatara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga masyarakat sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan.
Pada mata pelajaran seni budaya sub bidang studi seni tari, model pembelajaran kontekstual diharapkan mampu membuat siswa medorong pengetahuan yang dimilikinya dan menerapkannya dalam kehidupan, Model pembelajaran CTL ini juga
dapat membantu siswa memahami dan menguasai pemahamannya dalam
penerapannya pada pelaksanaan pembelajaran seni tari. Sehingga dengan adanya
penerapan model pembelajaran CTL siswa tidak hanya mampu menghafal tentang
konsep atau pengetahuan pembelajaran seni tari, tetapi siswa dapat mengalami
sendiri pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari pembelajaran seni tari di
dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar yaitu sebagai berikut:
a. Proses belajar
b. Transfer belajar
c. Siswa sebagai pembelajaran
d. Pentingnya lingkungan belajar
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran seni tari
yang dibuat oleh guru seni budaya salah satunya adalah rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), sudah sesuai dengan beberapa komponen utama pada CTL
diantaranya: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning),
menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan
(modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment).
Hal tersebut terlihat pada komponen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
yang terdapat pada metode dan strategi pembelajaran. Selain itu, guru seni budaya
juga melakukan penilaian sebenarnya (authentic assesment) pada setiap materi
yang diajarkan. Penilaian sebenarnya (authentic assesment) merupakan penilaian
yang diperoleh baik dari segi proses maupun hasil akhir dalam pelaksanaan
pembelajaran seni tari.

2. Quantum learning
Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Serta dibuat juga portofolio untuk memudahkan para siswa. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.

Menurut studi kasus yang didapat berkaitan dengan quantum learning tersebut, dikatakan bahwa asesmen yang sedang berkembang saat ini adalah penilaian portofolio yang disinyalir memiliki banyak manfaat baik bagi guru maupun bagi siswa.
Model Pembelajaran Berbasis Portofolio merupakan alternatif Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan Cara Mengajar Guru Aktif (CMGA). Karena sebelum, selama dan sesudah proses belajar mengajar guru dan siswa dihadapkan pada sejumlah kegiatan. Diharapkan siswa akan mendapat banyak manfaat baik hasil belajar utama maupun hasil pengiring akademik dan sosial dan memudahkan siswa dalam menyerap pendidikan dalam proses pembelajaran seperti ini.
Melalui model pembelajaran berbasis portofolio siswa diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do) dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungannya baik lingkungan fisik, sosial, mapun budaya, sehingga mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia di sekitarnya (learning to know). Diharapkan hasil interaksi dengan lingkungannya itu dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi (learning to live together) akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup. Model pembelajaran berbasis portofolio merupakan satu bentuk perubahan konsep berpikir tersebut, yaitu suatu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa dalam memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik empirik. Praktik belajar ini dapat menjadi program pendidikan yang mendorong kompetensi, tanggung jawab dan partisipasi siswa, belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum, memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar siswa, antar sekolah dan antar anggota masyarakat
Pembelajaran saat ini perlu lebih menekankan how (bagaimana membelajarkan) daripada what (apa yang dibelajarkan). Guru tidak lagi hanya bertugas memberikan informasi kepada siswa. Tugas guru saat ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk mencari informasi baru diluar kelas di sekolah. Belajar tidak hanya disekolah, belajar juga dapat dilakukan diluar sekolah.

Guru tidak harus menyampaikan pelajaran sesuai dengan kurikulum, tetapi dituntut dapat mengembangkan potensi siswanya. Artinya, pembelajaran tidak lagi terikat dan dibatasi dinding-dinding kelas. Guru dituntut mengembangkan metode secara kreatif dan inovatif. Guru bukan lagi sebagai pusat pembelajaran, melainkan sebagai fasilitator. Sumber pembelajaran bisa berupa buku, lingkungan, dan masyarakat, termasuk internet.
Dengan demikian, siswa akan menyukai materi yang diberikan, bahkan akan terus menuntut untuk maju serta menemukan hal-hal baru pada bidang yang diminati untuk membangun kompetensi diri.

3. Quantum Teaching

Pada studi kasus Pengaruh Model Quantum Teaching dan Model Ekspositori Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Ditinjau Dari Kreativitas Siswa (Studi Eksperimen Kelas VIII Di SMP Negeri Kecamatan Mojogedang Tahun 2009 / 2010). diberikan Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalm lingkungan kelas. Didalam studi kasus ini murid. Dilihat bagaimana Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara Kreativitas Siswa Tinggi dan Kreativitas Siswa Rendah terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara Model Pembelajaran dan Kreativitas siwa terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dengan diberikannya model pembelajaran quatum teaching. Quantum teaching adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segalaa nuansanya. Dalam Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Interaksi yang menjadikan landasan dan kerangka untuk belajar. Dari uraian diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa QuntumTeaching adalah orkrestasi bermacam-macam interaksi yang ada mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Berdasarkan asas utama quantum teaching konsep itu adalah
“Bawalah dunia mereka kedunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Maksud asas utama ini memberi pengertian bahwa langkah awal yang harus dilakukan dalam pengajaran yaitu mencoba memasuki dunia yang dialami oleh peserta didik.
Cara yang dilakukan seorang pendidik untuk apa yang diajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, maka dapat membawa mereka kedalam dunia kita dan memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu. “dunia kita” dipeluas mencakup tidak hanya para siswa, tetapijuga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam ini, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari kedalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.
3. Prinsip-Prinsip Quantum Teaching
Prinsip-prinsip Quantum Teaching adalah struktur chort dasar dari simfoni. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
a. Segalanya Berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa, tubuh, dari kelas yang bagaikan hingga rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
b. Segalanya Bertujuan
Segalanya bertujuan dapat, digambarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam proses belajar mengajar memiliki tujuan tertentu. Suatu tujuan yang diharapkan tidak harus diuraikan dengan kata-kata dapat pula diwujudkan dan mencakup keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam proses belajar mengajar itu sendiri.
c. Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
Otak manusia berkembang pesat dengan adanya rasa ingin tahu oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untukyang mereka pelajari.
d. Akui Setiap Usaha
Belajar pada hakikatnya mengandung konsekuensi ketika peserta didik mulai melangkah untuk belajar yang bagaimanapun untuk setiap usaha dan pekerjaan untuk belajar yang dilakukan selalu dianggap perlu dan akan berpengaruh terhadap hasil pekerjaan yang lebih baik. Fungsi dari pengakuan akan berperan menciptakan perasaan nyaman dan poercaya diri. Disamping itu juga dapat menciptakan lingkungan paling baik untuk membantu mengubah diri menuju arah yang diinginkan.
e. Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan
Perayaan merupakan ungkapan kegembiraan atas keberhasilan yang diperoleh. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuaan dan meningkatklan asosiasi emosi positif dengan belajar.



4. Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Emosional merupakan kemampuan individu dalam menggunakan atau mengelola emosinya secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan meraih keberhasilan.
Berdasarkan pada studi pendahuluan dan data dari beberapa referensi di atas, peneliti memfokuskan penelitian pada tindakan guru dalam pembelajaran yang berkontribusi terhadap pengembangan kecerdasan emosional siswa di SD Islam Roushon Fikr Jombang, yang meliputi: 1). Tindakan guru dalam pembelajaran yang berkontribusi terhadap kemampuan siswa mengenal emosi diri, 2). Tindakan guru dalam pembelajaran yang berkontribusi terhadap kemampuan siswa mengelola emosi diri, 3). Tindakan guru dalam pembelajaran yang berkontribusi terhadap kemampuan siswa memotivasi diri sendiri, 4). Tindakan guru dalam pembelajaran yang berkontribusi terhadap kemampuan siswa mengenal emosi orang lain, dan 5). Tindakan guru dalam pembelajaran yang berkontribusi terhadap kemampuan siswa menjalin hubungan dengan orang lain. Sedangkan dalam perkembangan setelah mengumpulkan data, menganalisis, dan mengidentifikasi, muncul fokus kedua sebagai temuan penelitian tambahan, yaitu peristiwa spontan dalam pembelajaran yang langsung direspon oleh guru, dan peristiwa dalam pembelajaran yang berpeluang untuk mengembangkan kecerdasan emosional siswa, tetapi diabaikan atau tidak direspon langsung oleh guru.
Dasar-dasar kecerdasan sosial:
a. Mengorganisasi kelompok
b. Merundingkan pemecahan
c. Hubungan pribadi
d. Analisis sosial


5. Pembelajaran Konstruktivistik
Pada studi kasus kasus “Studi Perbandingan Antara Teori Konstruktivisme dan Konsep E-Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia”. Ditemukan relevansi dengan materi mengenai pembelajaran konstrutivisme dari buku Paradigma Baru Pembelajaran. Pada studi kasus ini dosen memberikan sejumlah materi yang kemudian diinterpretasikan oleh mahasiswa sesuai dengan kemampuannya masing masing, hal ini sesuai dengan tujuan konstruktivis dari buku Paradigma Baru Pembelajaran yaitu konstruktivis ini ditentukan bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif produkif dalam konteks nyata yang mendorong si belajar untuk berpikir dan berpikir ulang lalu mendemonstrasikan. Sumber : http://repository.gunadarma.ac.id:8000/browse.php?nfile=1565

6. Pembelajaran Multiple Intelligences
Selama ini kecerdasan diukur dengan tes IQ yang berfokus pada kecerdasan linguistik dan matematika/logika, dan keberhasila di sekolah menunjukan kecerdasan. Namun pada dasarnya bukan hanya itu cara mengetahuinya. Howard Gardner mendefinisikan kecerdasan sbb
1. Kemampuan menyelesaikan masalah atau produk mode yang menerapkan konsekuensi dalam suasana budaya
2. Keteramplan memecahkan masalah membuat seseorang mendekati situasi yang sasaran harus dicapai.
3. Kemampuan untuk menemukan arah / cara yang tepat ke arah sasaran tersebut.
Gardner memetakan lingkup kemampuan manusia yang luas menjadi delapan kategori yang komprehensif atau delapan kecerdasan dasar, yaitu:
1. Kecerdasan linguistik
2. Kecerdasan matematis-logis
3. Kecerdasan spasial
4. Kecerdasan kinetis-jasmani
5. Kecerdasan musikal
6. Kecerdasan interpersonal
7. Kecerdasan intrapersonal
8. Kecerdasan naturalis
9. Kecerdasan eksistensial
Pada studi kasus di http://indonesia-educenter.net/index.php?option=com_content&task=view&id=299&Itemid=61, dilakukan sebuah penelitian terhadap tiga kelas 4 SD yang mengadopsi metode pembelajaran yang berbeda.
Kelas yang pertama, yaitu kelas 4A menerakan Multiple Intelligences (guru mengajar dengan teknik bervariasi sehingga ragam kecerdasan menurut Howard Gardner dapat terlayani di dalam proses ini) NAMUN alur prosesnya masih mengikuti pola mengajar konvensional, yaitu Guru yang memegang kendali atas pilihan teknik serta alokasi waktunya.
Kelas yang kedua, yaitu kelas 4B menerapkan model pembelajaran Konvensional
Kelas yang ketiga, yaitu kelas 4C menerapkan Multiple Intelligences dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk MEMILIH sendiri teknik belajar (atau paling tidak, disediakan beberapa alternatif pilihan) yang paling disukainya. Hal ini diwujudkan dengan memberi kebebasan pada siswa untuk menentukan sendiri tugas-tugas yang ingin diselesaikannya terlebih dahulu sebelum dia berpindah kepada tugas yang lainnya. Juga memberi pilihan kepada siswa untuk mau bekerja sendiri atau bersama dalam kelompok. Kelas 4C ini kami sebut sebagai Kelas Kecerdasan Majemuk Sudut Kecerdasan.
Setelah melewati berbagai tes, didapatkan bahwa kelas 4B lebih unggul daripada kelas 4C bila dlihat dari hasil akhir. Namun pada dasarnya kleas 4C juga banyak mengalami kemajuan. Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat di http://indonesia-educenter.net/index.php?option=com_content&task=view&id=207&Itemid=61 dan perbandingan antara kelas 4A dan 4C dapat dilihat http://indonesia-educenter.net/index.php?option=com_content&task=view&id=206&Itemid=61 dimana evaluasi di kelas 4C lebih baik
Pada dasarnya studi kasus ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran multiple inteligence ini berperan dalam pendidikan anak, seperti yang dijelaskan di buku,

DAFTAR PUSTAKA:
http://repository.gunadarma.ac.id:8000/browse.php?nfile=1565

http://pasca.uns.ac.id/?p=306

http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/983

http://indonesia-educenter.net/index.php?option=com_content&task=view&id=299&Itemid=61

http://bankskripsi.com/model-pembelajaran-berbasis-portofolio-studi-kasus-di-sd-negeri-barusari-03-semarang.pdf.doc.htm

http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/seni-desain/article/view/1548

Prof. Dr. H. Yatim Riyanto, M.Pd. Paradigma Baru Pembelajaran. KENCANA PRENADA MEDIA GROUP. JAKARTA. 2009




KELOMPOK V :
1. DENISE LAZZARONI O81301036
2. HUSNA A. ARITONANG 081301046
3. GRACIAS ANASTASIA 081301082
4. MAYRINDA FAMELLA 081301102
5. SURI ICHWANI 081301103
6. DITA ARDHINA 081301110

Selasa, 02 Maret 2010

Komunikasi Tertulis dalam Pendidikan Orang Dewasa - Resume

Komunikasi tertulis adalah bagian dari program komunikasi yang ditujukan kepada mereka yang membaca dan bentuk lain dari komunikasi adalah ditujukan untuk mereka yang melihat dan mendengar. Yang paling umum digunakan adalah surat, termasuk laporan berkala dan surat edaran, berita, poster, bulletin, leaflet, dan pamphlet. Dalam menggunakan alat tersebut, yang paling penting adalah pesan sedapat mungkin bersifat “pribadi”, singkat dan menarik.

LAPORAN BERKALA DAN SURAT EDARAN
Laporan berkala ialah laporan yang dikirim secara pribadi kepada orang banyak. Surat edaran sifatnya lebih pribadi tidak sama dengan laporan berkala. Surat edaran memfokuskan suatu peristiwa, digunakan untuk memperkuat dan member dorongan terhadap pelaksanaan pertemuan, demonstrasi dan lainnya.


BERITA
Berita menunjuk pada artikel yang dicetak dalam surat kabar local. Ada 6 kunci di mana editor surat kabar sering menggunakannya untuk menentukan apa yang akan dicetak, yaitu:
1. ketepatan waktu
2. kedekatan informasi dengan pembacanya
3. akibat/pengaruh informasinya terhadap pembaca karakteristik yang diinformasikan yang menonjol4. menonjol
5. pusat perhatian orang
6. kebijakan surat kabar

BULETIN, FOLDER, LEAFLET, ATAU PAMFLET
Semuai ini merupakan informasi tertulis mengenai subjek khusus yang panjangnya bervariasi. Dikelompokkan sebagai jenis komunikasi media massa karena dipersiapkan dalam jumlah yang banyak untuk disebarluaskan. Penelitian menyatakan bahwa bulletin mempunyai nilai yang tinggi dalam daftar preferensi materi pandidikan POD.


POSTER
Poster merupakan lembaran karton dengan ilustrasi yang biasanya menggunakan sedikit kata-kata. Poster didesain untuk menarik perhatian orang, menekankan fakta atau ide dan menstimulasi orang untuk mendukung ide, memperoleh lebih banyak informasi atau melakukan beberapa jenis aksi.

MENULIS CEPAT
Agar dapat menulis cepat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- mengetahui pembaca Anda
- mempunyai tujuan dan kejar tujuan itu
- mempunyai rencana dan ikuti rencana itu

MENULIS AGAR MUDAH DIBACA

Ada juga beberapa hal yang dapat membantu agar menulis lebih mudah untuk dibaca, yaitu:
1. seperti bercakap-cakap (menggunakan bahasa sehari-hari)
2. menggunakan kata-kata yang pendek dan mudah dimengerti
3. menggunakan kata-kata personal
4. menggunakan kalimat yang pendek dan bervariasi
5. menggunakan paragraph yang pendek
6. menyusun kalimat dengan urutan yang logis
7. memperhatikan hal-hal berikut:
- tata bahasa campuran
- peubah yang berayun
- berlebihan
- kata abstrak
- membatasi
- berbelit-belit
- susunan yang tercampur atau paralelisasi yang salah

Referensi:
Suprijanto,H. (2007). Pendidikan orang dewasa; dari teori hingga aplikasi. Jakarta:
Bumi Aksara.