Jumat, 22 Oktober 2010

RESUME PIAGET DAN VYGOTSKY

PIAGET

KONSEP TEORITIS UTAMA

Intelegensi

Menurut Piaget, intelegensi bukan hanya sekedar berapa banyak jawaban benar anak dalam suatu tes intelegensi. Pengertian intelegensi mencakup :

· Intelegensi memungkinkan sesorang untuk bertahan hidup dalam lingkungannya

· Lingkungan dan organism cenderung berubah , interaksi antara kedua komponen itu juga terus menerus berubah

Skemata

Skema (jamak : schemata) adalah potensi umum untuk bertindak dengan cara tertentu. Di dalam skema ada isi (content) yaitu kondisi-kondisi yang berlaku selama terjadi manifestasi potensi umum.

Asimilasi dan Akomodasi

Asimilasi : Proses merespon lingkungan sesuai dengan struktur kognitif seseorang yaitu pencocokan atau penyesuaian antara struktur kognitif dengan lingkungan fisik.

Akomodasi : Proses memodifikasi struktur kognitif agar sesuai dengan lingkungan.

Asimilasi dan akomodasi merupakan functional invariants (invariant fungsional) karena mereka terjadi di semua level perkembangan intelektual.

Ekuilibrasi

Ketika asimilasi terjadi seseorang akan merespon situasi sekarang sesuai dengan pengetahuan sebelumya. Munculnya suatu situasi yang baru membuat kita tidak bisa merespon jika hanya mengandalkan pengetahuan terdahulu sehingga menyebabkan ketidakseimbangan kognitif. Adanya kebutuhan bawaan kita untuk mencapai equilibrium membuat struktur otak berubah sehingga terjadi keseimbangan (proses akomodasi terjadi). Ketidakseimbangan ini menyebabkan timbulnya motivasi pada individu untuk mengembalikan ke tahap seimbang. Akomodasi menyebabkan ketika kita bertemu dengan situasi baru di lain waktu, tidak akan terjadi yang namanya ketidakseimbangan kognitif.

Interiorisasi

Merupakan penurunan ketergantungan pada lingkungan fisik dan meningkatnya struktur kognitif.

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN

1. Tahap Sensorimotor (dari lahir – 2 tahun)

Ciri : tidak ada bahasa, anak bersifat egocentris, pada akhir tahap ini anak mengembangkan object permanence, anak tahu benda itu ada biarpun tidak tampak.

2. Pemikiran preoperational (sekitar 2 tahun – 7 tahun)

a. Pemikiran prakonseptual (sekitar 2 tahun - 4 tahun)

Ciri : Pembentukan konsep sederhana, mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok berdasarkan kemiripan, logika mereka tidak induktif atau deduktif, namun transduktif

b. Periode pemikiran intuitif (sekitar 4 tahun - 7 tahun)

Anak memecahkan masalah secara intuitif, bukan berdasarkan kaidah-kaidah logika.

Ciri : anak tidak mampu untuk conservation. Anak secara mental tidak mampu membalikkan operasi kognitif.

3. Operasi konkret (sekitar 7 tahun - 11/12 tahun)

Ciri : anak memiliki kemampuan konservasi, kemampuan mengelompokkan secara memadai, mampu melakukan pengurutan, dan mampu menangani konsep angka. Proses pemikiran masih didasarkan hal-hal yang konkret.

4. Operasi formal (sekitar 11/12 tahun – 14/15 tahun)

Anak mampu menangani situasi hipotetis dan proses berpikir mereka tidak lagi tergantung hanya pada hal-hal yang langsung dan riil. Pemikiran anak semakin logis.

KONDISI OPTIMAL UNTUK BELAJAR

- informasi harus disajikan sedemikian rupa sehingga dapat diasimilasikan ke dalam struktur kognitif tetapi pada saat yang sama ia harus berbeda agar menimbulkan perubahan dalam struktur kognitif tersebut.

- Menurut Piaget, kegagalan pengetahuan sebelumnya untuk mengasimilasikan suatu pengalaman akan menyebabkan akomodasi, atau proses belajar baru. Pengalaman harus cukup menantang agar memicu pertumbuhan kognitif.

- Seseorang harus menentukan jenis struktur kognitif apa yang tersedia bagi individu dan pelan-pelan mengubah struktur ini sedikit demi sedikit.

- Menurut Piaget, perkembangan intelektual terjadi sebagai hasil dari kematangan biologis.

- Piaget percaya bahwa maturasi hanya menyediakan kerangka untuk perkembangan intelektual. Selain itu ada pula pengalaman fisik (jasmani) maupun sosial yang sangat penting bagi perkembangan mental.

PENDAPAT PIAGET TENTANG PENDIDIKAN

Menurut Piaget, pendidikan yang optimal membutuhkan pengalaman yang menantang bagi si pembelajar sehingga proses asimilasi dan akomodasi dapat menghasilkan pertumbuhan intelektual.

EVALUASI TEORI PIAGET

Kontribusi

- Piaget tidak mudah dikategorisasikan sebagai teoritisi penguatan, atau teoritisi kontinguitas.

- Piaget mengasumsikan bahwa belajar terjadi kurang lebih secara kontinu dan belajar melibatkan akuisisi informasi dan representasi kognitif dari informasi itu.

- Asimilasi dan akomodasi adalah proses belajar yang melibatkan akuisisi dan penyimpanan informasi.

- Namun asimilasi adalah jenis belajar yang statis, dibatasi oleh struktur kognitif yang ada. Akomodasi adalah pertumbuhan progresif dari struktur kogitif yang mengubah karakter dari semua proses belajar selanjutnya.

Kritik

- Problem dalam metodologi riset Piaget.

- Metode klinisnya menyediakan informasi yang tidak dapat dicatat dengan mudah dalam eksperimen laboratorium yang ketat.

LEV S. VYGOTSKY

VYGOTSKY : THE SOCIAL FORMATION OF MIND

- Seperti Bruner, Vygotsky mencoba untuk memahami formasi intelektual dengan berfokus pada proses perkembangannya.

- Vygotsky focus pada mekanisme perkembangan untuk pengecualian spesifik, dibedakan tahap perkembangan.

- Dia menolak pendapat bahwa gagasan tunggal, seperti ekuilibrium Piaget, bisa diperhitungkan untuk perkembangan.

- Dia berpendapat bahwa perkembangan jauh lebih kompleks, berubah sangat alami seperti yang diungkapkan.

Wertsch (1985) mendeskripsikan 3 tema yang muncul untuk membentuk inti dari kerangka teori Vygotsky :

(1) ketergantungan pada genetic atau metode perkembangan

(2) pernyataan bahwa proses mental yang lebih tinggi dalam individu memiliki asal-usul mereka dalam proses social

(3) klaim bahwa proses mental dapat dipahami hanya jika kita mengerti alat-alat dan tanda-tanda yang menengahinya.

Phylogenetic Comparisons

Menurut Wertsch (1985), Vygotsky menarik banyak dari penelitian Kohler pada insight untuk mengusulkan penggunaan alat-alat sebagai prasyarat bagi evolusi fungsi kognitif manusia. Vygotsky percaya, bahwa alat diciptakan dan digunakan, walaupun prasayarat bagi kognisi manusia. Untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam fungsi mental antara manusia dan hewan lainnya, Vigotsky mengambil Marxian posisi Marxis yang diselenggarakan kegiatan sosial tenaga kerja, yang didirikan pada penggunaan alat teknis, adalah kondisi dasar pada eksistensi manusia.

Dari perbandingan filogenetik ini, lalu, Vygotskymemperoleh sebuah kepercayaan yang benar-benar mirip dengan pambahasan Bruner sebelumnya. Yaitu, perkembangan biological dan cultural tidak terjadi dalam isolasi.

VYGOTSKTY’S DEVELOPMENTAL METHOD

- Natural Process of Development

Vigotsky menggunakan tiga tekhnik dalam eksperimen ya pada anak-anak yang meliputi pengenalan hambatan yang akan mengganggu pemecahan masalah.

  1. Dalam studi bahasa sifat yang mementingkan diri sendiri, contohnya, Vigotsky meminta anak-anak yang berbicara bahasa yang berbeda untuk melengkapi kegiatan kooperatif.
  2. Sebuah teknik untuk memberikan bantuan secara eksternal untuk menyelesaikan masalah yang dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara. Dibawah kondisi bermacam-macam tugas anak-anak yang seharusnya diharapkan menggunakan materi yang secara sistematis berbeda caranya.
  3. Akhirnya, anak-anak mungkin diminta untuk menyelesaikan masalah yang melebihi pengetahuan dan kemampuan mereka.

- Sosiokultural History

- Vygotsky mempertimbangkan perkembangan intelegensi menjadi internalisasi alat budaya seseorang.

- Bagi Vygotsky, perspektif historical dan cultural adalah hampir sama, karena perbedaan cultural/budaya dapat dilihat di sepanjang kontinum evolusi sosial.

- Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tugas yang megharuskan mereka untuk mengelompokkan objek-objek yang dikenal, subjek tak terpelajar cenderung mengkategorisasikannya seperti contoh berikut. Palu, gergaji, kapak, dan batang kayu dianggap berkaitan. Subjek yang terpelajar, sebaliknya, cenderung mengkategorisasikan objek-objek itu berdasarkan konteks hubungan independen objek-objek tersebut. Sehingga, palu, gergaji, dan kapak dikelompokkan sebagai alat.

Dua konsep penting yang diajukan Vygotsky

(1) Internalisasi

(2) Zona perkembangan proximal.

Internalisasi

- Setiap fungsi mental yang lebih tinggi selalu melalui tahap eksternal dalam perkembangannya karena pada mulanya hal ini adalah fungsi sosial.

- Vygotsky berpendapat bahwa internalisasi memberikan penjelasan yang baik baagi observasi Piaget tentang egocentric speech pada anak-anak tahapan praoperasional.

- Dalam teori Piaget, egosentris speech menggambarkan pemikiran egosentris dan pola pemberian alasan (reasoning) pada anak tahap praoperasional.

- Vygotsky percaya bahwa egosentris speech berkembang secara perlahan menjadi inner speech dan ditandai “sebuah perkembangan abstrak dari suara, kemampuan baru anak mengenai ‘memikirkan kata-kata’ sebagai pengganti dari mengucapakan kata tersebut.” Lalu Vygotsky juga mengatakan bahwa egosentris speech adalah belum terpisahkan dari social speech.

The Zone of Proximal Development

Konsep ini secara sederhana menjelaskan bahwa ketika fondasi sudah kuat pada tahap sebelumnya, maka akan semakin mudah bagi pebelajar untuk naik ke tahapan berikutnya.

- Menurut Vygotsky, “zona perkembangan proximal menjelaskan fungsi-fungsi yang belum matang tapi sedang dalam proses kematangan”. Dalam contoh hipotesis, anak pertama menunjukkan tanda-tanda keahlian/skill yang akan berkembang melebihi kemampuan anak kedua.

- Zona perkembangan proximal, dalam pemisahan perkembangan actual dengan potensial, menunjukkan implikasi lebih revolusioner untuk penilaian kemampuan intelektual anak-anak.

LEARNING, INSTRUCTION, AND DEVELOPMENT

Teaching thinking versus content-specific skill

Vygotsky mempertimbangkan dan menolak pandangan tentang bagaimana interaksi belajar dan perkembangan :

1. Perkembangan adalah suatu kondisi awal yang harus muncul sebelum belajar, berarti materi yang diajarkan di sekolah harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif anak.

2. “Perkembangan adalah belajar” itu lebih mengarah kepada karakteristik dari teori behaviorist dan teori kognitif information processing. Belajar bukan hanya perolehan dari kemampuan untuk berpikir; belajar adalah perolehan dari banyak kemampuan khusus untuk memikirkan tentang beragam hal.

3. Interaksi antara belajar dan perkembangan

Interaction in the zone of proximal development

Disini ada istilah scaffolding dimana instruktur atau teman yang lebih mampu berfungsi sebagai tool yang mendukung untuk pembelajar ketika partner yang kurang mampu mengkonstruk pengetahuan mereka. Scaffolding memiliki 5 karakteristik :

1. Menyediakan dukungan

2. Berfungsi sebagai tool

3. Memperluas kemampuan seseorang

4. Memperbolehkan menyelesaikan pekerjaan yang kelihatannya tidak mungkin diselesaikan

5. Dipakai secara selektif untuk memberikan bantuan setiap saat dibutuhkan

Seorang instruktur harusnya memberikan bimbingan yang diperlukan oleh pembelajar untuk dapat menghubungkan antara skill yang sudah mereka peroleh sebelumnya dengan skill yang diinginkan untuk dicapai.

THE ROLE OF LANGUAGE AND OTHER SIGN SYSTEM

- Sebuah konsekuensi internal adalah kemampuan menggunakan tanda dalam meningkatkan cara elaborative yang memperluas pemahaman anak-anak.

- Dalam bermain, Vigotsky berpendapat anak-anak kemampuan konseptual mereka dan memulai mengembangkan kapasitas pada ide abstrak. Tanda mereka membangun imaginasi mereka

- Vigotsky percaya bahwa bahasa merupakan hal yang penting dalam menggunakan tanda perilaku yang ditemukan selama perkembangan kognitif, karena kebebasan anak dari batasan yang ada dilingkungan.

- Penyajian decontextualization dimana tanda (atau kata) menjadi lebih dan lebih diganti dari kontek konkrit ke abstrak.

- Proses decontextualization harus ditemukan dengan system symbol-symbol jika menjalankan fungsi mental seperti alasan.


Jumat, 01 Oktober 2010

Mata Kuliah Psikologi Belajar – Teori Bruner????

Setelah sedikit banyak mempelajari teori Bruner mengenai discovery theory, saya kemudian merasa bahwa ternyata perkuliahan ini mengadopsi metode pembelajaran Bruner, dimana dosen berperan sebagai fasilitator saja, dan mahasiswalah yang dituntut untuk aktif baik itu di dalam kelas, maupun dalam proses pencarian tugas dan preseentasi.

Bu Ika sebagai dosen pengampu, di awal perkuliahan memberikan tugas presentasi kepada kami, dan resume untuk setiap topic yang akan dipresentasikan setiap minggunya. Tugas ini dapat dianggap sebagai suatu “problem” yang harus diselesaikan oleh kami semua. Kami jadi harus bekerja semaksimal mungkin untuk mencari bahan dan mempersiapkan presentasi kami. Bu Ika sebagai dosen tinggal membimbing kami dan mengarahkan ketika ada yang melencenga atau dirasa tidak benar.

Berdasarkan asumsi dasar Bruner juga dikataakan bahwa pemerolehan informasi sifatnya interaktif. Inilah yang terjadi di kelas psi. belajar. Begitu pula ketika mahasiswqa menghubungkan informasi yang baru diterima dengan apa yang sudah mereka miliki sebelumnya.

Proses belajar Bruner juga diterapkan pada perkuliahan ini, dimana (1) pemerolehan informasi, (2) transformasi informasi tersebut dan (3) evaluasi akan apa yang telah dipelajari juga kerap diterpakan pada kelas ini.

Junior High and Senior High

Ketika masuk ke dunia remaja, banyak perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu secara fisik, emosional, cara berpikir, karakteristik dan banyak lagi. Satu hal lagi yang saya anggap berubah adalah cara belajar saya. Setelah meleawati masa SD, dan masuk ke SMP, saya mulai menerapkan system belajar Behaviouristik oleh Ivan Pavlov, terkhusus Classical Conditioning

Pavlov mengatakan bahwa belajar adalah segala bentuk perubahan yang terjadi pada tingkah laku yang didapat melalui pengalaman. Pada saat sekolah saya mengalami langsung bagaimana proses belajar disekolah. Sesuai dengan teori Classical Conditioning, saya belajar untuk membentuk perilaku-perilaku yang telah dikondisikan. Contoh kecil saja, ketika guru memberikan tugas (N) dan murid tidak mengerjakannya, guru lantas memberikan hukuman.(US). Murid-murid akan mengasosiasikan tidak mengerjakan PR dengan hukuman sehingga pada kelas-kelas berikutnya ketika guru memberikan tugas (CS) dan berlakunya hukuman (US) jika tidak mengerjakan, maka murid-murid pasti akan mengerjakan PRnya.

Contoh lain adalah mungkin ketika saya mengasosiasikan belajar dengan nilai yang tinggi, saya akan cenderung belajar agar saya memperoleh nilai yang baik, khsusnya ketika ujian.

Proses Extinction, Generalization dan Discrimination juga sering saya alami. Misalnya jika ternyata saya sudah beberapa kali tidak mengerjakan PR, dan saya kerap tidak mendapat hukuman apapun, maka saya akan cederung untuk tidak mengerjakan PR, karena ternyata tidak ada konsekuensi yang saya dapatkan. Inilah proses Extinrtion tadi. Generalization juga dapat terjadi ketika saya menyamaratakan semua mata pelajaran saya, padahal mungkin ada mata pelajaran yang lebih penting dan butuh perhatian lebih khusus. Begitu pula dengan Discrimination. Hal ini mungkin dapat dilihat ketika saya cenderung membedakan guru-guru yang mengajar saya. Saya bisa membedakan bagaimana karakter dan gaya mengajar mereka sehingga perilaku yang saya tampilkan pada setiap guru berbeda pula.



Sumber Referensi:
Hergenhahn, B.R & Olson, M.H. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar). edisi ke-7. Jakarta : Kencana Prenada Mulia

Gaya Belajar Masa Kecil :)

Sejak kecil saya sudah diajarkan dengan dunia belajar. Bermula dari saat saya masih TK, saya sudah mulai belajar untuk mengenal lingkungan dan perlahan-lahan menanjaki dunia akademik. Saya sangat beruntung masa kecil saya dihabiskan di Melbourne, Australia dimana saya mendapat pengalaman belajar yang berbeda jika dibandingkan di Indonesia. Selama hampir 5 tahun saya sekolah disana, yaitu dari TK – kelas 2 SD, saya belajar secara berkelompok, sambil bermain. Pada saat itu saya sangat menyenangi segala kegiatan di sekolah, karena saya “have fun”.


Saya banyak meniru apa yang dipraktekkan atau dilakukan oleh guru saya, begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman saya. Saya akan cenderung mengikuti apa yang saya anggap menarik dan apa yang kira-kira menjadi penguat, sehingga saya menirunya. Misalnya saja, ketika teman saya diberikan reward berupa stiker bintang pada tugas menggambarnya, karena telah menggambar sebuah rumah berwarna merah, saya juga ikut-ikutan menggambar rumah merah, karena saya melihat bahwa teman saya mendapatkan stiker.


Contoh lain misalnya ketika saya melihat guru saya membuat suatu prakarya berupa kalung, dari benang dan beads, saya juga kemudian belajar untuk membuatnya sebagaimana guru saya melakukannya. Dirumah saya juga mengulangnya kembali dan mencoba membuat sendiri, kemudian menghadiahkannya kepada mama saya. Jika dipandang dari salah satu teori belajar, cara belajar saya dulu cenderung mengikuti teori belajar Bandura, yaitu Social Learning. Teori ini mengatakan bahwa konsep belajar social ada 4 yaitu:

  1. Proses Atensional
  2. Proses Retensional
  3. Proses Pembentukan Perilaku
  4. Proses Motivasional


Penerapan proses atensional ini saya lakukan ketika saya sering memperhatikan berbagai hal yang terjadi di sekitar saya. Contohnya saja seperti perilaku guru-guru dan teman-teman saya. Pada proses retensional, saya menimpan berbagai informasi yang tadi. Ini bisa melalui dua cara, yaitu verbal ataupun imajinal. Jadi ketika saya memperhatikan yang dilakukan guru atau teman saya, saya akan menginagat perilaku tersebut. Pada pembetukan perilaku, disinilah informasi yang diingat tadi direalisasikan dalam bentuk perilaku. Disinilah proses modeling itu tampak, dimana saya meniru atau mengimitasi apa yang dilakukan guru maupun teman saya. Pada proses motivasional, disinilah penguatuan bekerja untuk memotivasi diri menggunakan apa-apa saja yang telah dipelajari.


Teori belajar ini juga mengatakan bahwa individu tidak selamanya hanya mengimitasi, namun ada proses kognitif di dalamnya. Jika saya melihat ada teman saya yang kena hokum ketika ia ribut didalam kelas, saya pasti akan belajar untuk tidak ribut, meskipun ribut didalam kelas saya anggap menyenangkan. Namun karena ada hukuman jika melakukannya maka saya memilih untuk duduk tenang dan tidak ribut. Pada dasarnya teori ini sangat menekankan bahwa unsur P (Person), E (Environment) dan B (behaviour) saling berkaitan dan mempengaruhi, sehingga perilaku yang ditimbulkan dari seseorang akan sangat bergantung pada lingkungan yang kita tempati.


Sumber Referensi:
Hergenhahn, B.R & Olson, M.H. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar). edisi ke-7. Jakarta : Kencana Prenada Mulia

Jumat, 04 Juni 2010

JAWABAN UAS - PAEDAGOGI DAN ANDRAGOGI

PAEDAGOGI

Saya merupakan salah satu mahasiswa Fakultas Psikologi USU yang mengikuti kelas Paedagogi, yang pada awalnya tidak familiar dengan dunia blog. Ketika saya mengetahui bahwa kelas ini akan banyak menggunakan media online, khusunya blog, saya sempat khawatir bahwa saya akan pusing dan tidak mengerti. Namun ternyata, proses pembelajaranlah yang membuat saya pada akhirnya mengerti cara mengoperasikan fasilitas online ini. Dengan kemampuan saya yang masih dikatakan “baru mengerti”, maka saya tidak memungkiri bahwa kapasitas saya dalam menggunakan blog hanyalah sekedar upload tugas, posting tugas, comment mengenai tugas, dan semua hal yang berhubungan dengan tugas dan kewajiban kuliah – yang tentunya tidak mengalami kesulitan dalam melakukannya. Namun jika saya ditanya, apabila dari sejak awal saya sudah mengerti dan mahir menggunakan blog, apakah saya akan menciptakan sesuatu atau mengkreasikan sesuatu dengan blog saya ini dan memanfaatkannya untuk kepentingan lain, maka saya akan tetap menjawab tidak. Ada beberapa alasan yang mendasari saya untuk tidak menggunakan blog ini selain untuk kepentingan kewajiban tugas mata kuliah.

Pertama, saya tidak suka mencampur adukkan hal yang berbeda. Blog ini saya buat pada awalnya memang untuk kelas Paedagogi dan Andragogi. Jika saya berniat untuk membuat posting yang tidak berhubungan dengan tugas kuliah kedua mata kuliah ini, maka saya akan lebih memilih untuk membuat blog yang baru, karena saya suka dengan sesuatu yang organized dengan baik sehingga posting saya untuk paedagogi tidak akan bercampur dengan posting-posting lain seperti misalnya curahan hati saya, pengalaman, cerita, pengumuman, materi yang berhubungan dengan subjek lain ataupun berbagai hal lainnya.

Kedua, saya memang tidak aware bahwa hal tersebut diperbolehkan. Sejak awal saya memang berpikir bahwa blog ini dibuat untuk kelas Paedagogi serta Andragogi, dan hanya untuk Paedagogi dan Andragogi. Jadi saya memang tidak kepikiran untuk posting apapun selain untuk kuliah.

Ketiga, disini fungsi blog adalah sebagai media saya untuk belajar paedagogi, bukan untuk entertainment atupun hal-hal lain yang sifatnya pribadi. Alamat blog saya jelas terpublikasi kepada teman-teman, bahkan alamat email saya sendiri juga. Menurut saya tidak cocok jika saya menggabungkannya dengan posting lain.

Jika ditilik dari sebuah teori Paedagogi yang saya baca di buku PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN, karangan Prof. Dr. H. Yatim Riyanto, M.Pd, mengenai Prinsip-prinsip belajar oleh Dimyati dan Mudjiono, ada berbagai prinsip belajar yang dimiliki seseorang sebagai upaya pembelajaran. Prinsip itu antara lain:

  1. Perhatian dan Motivasi

Sebagai seorang mahasiswa saya dituntut untuk memberikan perhatian ketika berkuliah dan termotivasi untuk belajar. Inilah yang saya alami ketika saya menyadari bahwa saya tidak mampu menggunakan blog, sehingga saya memeprhatikan cara menggunakannya dan termotivasi untuk terus belajar dan mencoba sampai bisa.

  1. Keaktifan

Selain memeperhatikan saya harus aktif juga dalam belajar dan mencari sumber-sumber pembelajaran yang berguna. Walaupun sebenarnya bisa juga saya terapkan dengan posting menggunakan blog, saya lebih memilih aktif dengan menggunakan media lain, seperti misalnya browsing di google, yahoo, dll.

  1. Keterlibatan Langsung / Berpengalaman

Ini jelas terjadi ketika saya pada awalnya memang tahu tentang blog, namun tidak memiliki blog, sehingga proses pembelajaran yang bisa saya dapatkan sangatlah minim. Namun ketika saya telah terlibat langsung dan berpengalaman dalam penggunaannya, maka proses belajarpun terjadi. Saya juga kemudian tahu sendiri bahwa saya lebih memilih untuk tidak mengikutsertakan berbagai posting yang tidak berhubungan dengan kuliah saya.

  1. Pengulangan

Proses pengulangan dapat menajadi berguna dalam proses belajar. Dengan mengulang kita sekaligus melakukan proses latihan berulang yang dapat meningkatkan daya ingat dan performa kita. Hal ini terjadi ketika saya kerap mendapat tugas sehingga saya semakin sering menggunakan blog dan menjadi semakin terbiasa begitu pula dalam pengerjaan tugas.

  1. Tantangan

Sebagai mahasiswa, tentu ada tujuan yang hendak dicapai. Dalam mencapai tujuan tersebut pasti ada saja halangan yang mengganggu, namun mau atau tidak halangan tersebut harus dihadapi. Inilah tantangan tersebut. Semakin besar tantangan tersebut, maka semakin besar motivasi kita menaklukannya. Dalam hal ini, saya akan sering menghadapi berbagai pertanyaan atau kebingungan-kebingungan , salah satunya masalah posting di blog. Namun inilah tantangan yang harus saya hadapi.

  1. Balikan dan Penguatan

Sesuai dengan “law of effect”, seseorang akan lebih senang jika tahu bahwa ia mendapat hasil yang baik. Itu berarti ia akan mendapat pengaruh yang baik untuk usaha kedepannya. Ketika saya merasa blog saya lebih baik tanpa posting yang lain-lain, maka saya akan belajar dengan lebih baik dan positif.

  1. Perbedaan individual

Pada dasarnya, manusia itu adalah unik dan berbeda, sehingga tidak ada satu orangpun yang memiliki sifat-sifat yang sama persis. Hal ini pastinya mempengaruhi proses dan hasil belajar kita. Jika ada teman saya yang memilih untuk membuat posting diluar kewajiban mata kuliah pada blognya, hal ini membuktikan bahwa perbedaan sifat dan pendapat itu memang ada, bahwa saya berbeda dengan orang lain. Mungkin teman saya memiliki alasan tersendiri untuk melakukan demikian, namun saya juga memiliki alasan untuk tidak melakukannya.


ANDRAGOGI

Menurut Gambar 6 serta teori Pendidikan Orang Dewasa dalam Tinjauan Filsafat yang tertulis di buku PENDIDIKAN ORANG DEWASA hal 95, karangan Dr. Yusnadi, M.S, dikatakan bahwa pendidkan orang dewasa dapat bersumber dari filsafat-filsafat umum yang berkaitan dengan pendidikan. Semua sumber ide tersebut bisa mendapat respon dan pandangan yang berbeda, tergantung dari individu yang menilai.

Ada empat filsafat umum berdasarkan kerangka pertanyaan, apa itu realita, apa itu pengetahuan, dan apa itu nilai, yaitu:

- IDEALISME

- REALISME

- EXPERIMENTALISME

- EKSISTENSIALISME

Singkat cerita, keempat filsafat ini tentu memberikan ide yang berbeda, dimana Idealisme dan Realisme tergolong filsafat tradisionalisme (seseorang punya hak untuk hasil akhir namun tidak berhak menentukan nilai akhir) dan Eksperimentalisme serta Eksistensialisme tergolong filsafat modern (seseorang punya hak mentukan hasil akhir dan makna).

Berdasarkan gambar 6 mengenai hubungan keempat filsafat, jelas terlihat bahwa filsafat Idealisme, Realisme, serta Eksperimentalisme dibuat berdekatan dan saling berhubungan, namun filsafat Eksistensialisme sendiri dibawah, tanpa adanya tanda panah yang menhubungkan keempatnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Filsafat Idealisme, Realisme dan Eksperimentalisme memiliki semacam keterkaitan sehingga ketiganya dapat saling menimpali atau menutupi (overlap) dasar pemikiran masing-masing . Idealisme merupakan filsafat tertua yang sangat menjunjung tinggi Tuhan serta hal-hal yang berbau spiritual. Tujuan dan cita-cita hidup kaum idealis berdasar dari semangat manusia dan tidak mempedulikan kedaan fisik maupun materi. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kaum Realis, yang sangat mengandalkan dunia fisik dan materi sebagai hal yang nyata. Kaum Realisme sangat memperhatikan keberadaan manusia dan juga kebendaan. Berbeda hal lagi dengan kaum Ekperimentalisme, yang menjadikan pengalaman dan pemecahan masalah serta proses sebagai pedoman hidup, yang bertujuan untuk menguji nilai-nilai hidup. Walaupun ketiga filsafat ini berbeda, namun ketiganya memiliki hubungan, dimana Idealisme dan Realisme dapat saling menutupi dan melengkapi, meskipun sebenarnya keduanya sangat bertentangan. Kedua filsafat ini kemudian dapat memunculkan filsafat ekperimentalisme, yang juga berbeda dengan keduanya, namun merupakan perpaduan dari idelaisme dan realisme, karena kaum ekperimentalisme merupakan kaum yang dinamis, dan selalu mencari mana yang paling benar.

Yang terakhir adalah kaum Eksistensialisme, yang sifatnya sangat individualis, sehingga tidak begitu mempedulikan apa yang dikatakan oleh orang lain karena kaum ini bebas bertindak sesuai dengan apa yang dirasanya benar. Namun ini adalah sebuah tanggung jawab, yang juga dapat mempengaruhi orang lain. Inilah yang mungkin meyebabkan Eksistensialisme terpisah dari filsafat lainnya, karena paham ini sangat berbeda. Walaupun demikian perbedaan-perbedaan inilah yang pada akhirnya menghiasi kehidupan di dunia ini dengan berbagai macam variasi ide, pendapat, pandangan dan juga paham.

Hubungan keempat filsafat ini dapat dikaitkan dengan salah satu performa yang saya ikuti di mata kuliah Andragogi. Dalam hal ini, yang menurut saya paling sesuai dengan gambar ini adalah metode Diskusi. Mengapa? Karena sama halnya dengan konsep keempat filsafat tadi, metode diskusi adalah salah satu metode pembelajaran bagi pendidikan orang dewasa yang sangat variatif dalam hal pelaksanaannya. Terdapat bermacam-macam metode diskusi yang dapat digunakan. Diskusi dapat bersifat formal, maupun informal, dalam bentuk kelompok seperti buzz group, atau huddle, dapat berupa debat, dapat juga brainstorming dan masih banyak yang lainnya. Metode diskusi sendiri juga secara tidak langsung dapat menerapkan berbagai macam paham filsafat tadi. Misalnya saja kita dapat melihat paham apa yang dianut oleh seseorang berdasarkan cara seseorang memimpin sebuah diskusi, ataupun bagaimana cara seseorang berargumen atau memberi tanggapan maupun pendapat di dalam sebuah forum diskusi. Selain itu paham eksistensialis juga dapat kita lihat ketika ada sebuah pemecahan masalah di dalam diskusi, ketika ada hal yang diperdebatkan, dan ketika anggota diskusi mencari solusi ataupun jawaban yang paling tepat dari sebuah masalah. Banyaknya cara menjalankan diskusi dan beranekaragamnya bentuk dari diskusi tersebut dapat menjadi cerminan keempat filsafat tadi yang berbeda namun tetap penting untuk memberi warna di dunia ini. Sama halnya dengan diskusi ini, meskipun berbeda-beda cara penyajiannya dan juga terbuka untuk divariasikan, namun pada dasarnya semua metode itu sama pentingnya dan bertujuan sama yakni untuk menyampaikan pendapat dan mendorong individu untuk berpikir dan mengambil keputusan sendiri baik secara individu maupun kelompok.